Coming Soon…..

Coffee

Some people says that coffee is black and bitter. But many people love that black and bitter coffee so much.

You know? Maybe coffee should be black as hell and strong as death. But if you add some sugar it can as sweet as love.

So, would you still drink the bitter coffee?

Mint

The Myth behind Mint origin is that Pluto’s Wife, Proserpina, casted a spell on her rival, Minthe, and turned her into a plant. That plant name Mint.

Pluto, who fell in love with Minthe tried but couldn’t break the spell.

Hence, the sweet fragrance of the Mint is the beauty of that Lady.

Ice Cream

Ice Cream is sweet. It was also delicious.

But, in another situation, ice cream make our teeth ache. Especially when our teeth are sensitive.

However many people says that they are still love that Ice cream.

Look like love, is’n it? 

Vanilla

The smells of Vanilla is soft and elegant. It was more impressed as Aromatherapy. So calm and comfortable.

But, the Essen of Vanilla has such bitter taste.

Even so, it would still be sweet vanilla flavor. Sweet and tasty.

No Other – Epilog

Pink_Japanese_Anemones copy

Mokpo, 1997

Musim semi berakhir, digantikan oleh musim panas yang semakin hangat. Semua kalangan bersorak menyambut udara yang hangat dan hawa liburan yang menyenangkan itu. Bunga – bunga yang ada di taman masih mekar dengan indahnya. Membuat orang – orang senang menghabiskan waktu liburnya disana. Sepertinya semua menyukai musim panas.

Seperti biasa, pohon Oak di dekat taman kanak – kanak pelangi selalu ramai oleh gerombolan anak kecil yang memilih untuk bermain disana. Selain teduh, tempat tersebut juga bisa dibilang dekat dengan rumah mereka. Jadi, para orang tua bisa tenang membiarkan anak – anak nya bermain disana.

“Hyun Hee~ya, siapa pasanganmu hari ini? Lee Donghae lagi?” Tanya bocah laki – laki berusia kurang lebih 13 tahun. Lima tahun lebih tua darinya.

“Ne, Donghae oppa akan selalu menjadi pasanganku. Ya kan Oppa?” Kini gadis cilik bernama Hyun Hee tersebut menoleh ke arah Donghae, yang masih sibuk dengan tarian – tarian dance nya.

“Oppa, kau akan selalu menjadi pasanganku kan? Se – la – ma – nya?” Tanya gadis itu lagi. Lebih keras karena yang ia ajak bicara tidak menggubrisnya sama sekali.

Continue reading

No Other Part 9 – End

no other part 9

Kyuhyun’s POV

Kurengkuh tubuhnya yang sedang terduduk dilantai ke dalam pelukanku. Gadis ku sedang menangis. Dia menangis sambil membawa sebuah kertas berwarna merah jambu yang aku yakini sebagai undangan pernikahan Donghae Hyung dan Hyun Hee. Tentu saja aku tahu. Kami semua juga mendapatkan undangan tersebut hari ini.

“Jangan seperti itu, kumohon. Aku tidak bisa melihatmu mengeluarkan air mata, apalagi sampai seperti ini.” Aku sedikit merunduk dan kini wajah kami saling berhadapan. Aku melihatnya dengan sangat jelas sekarang. Raut mukanya, matanya yang sendu, bibirnya yang mungil dan air mata nya yang tanpa henti mengalir. Semua terekam jelas oleh penglihatanku. Matanya menyiratkan kalau dia sudah lelah untuk terus menerus mengeluarkan cairan bening itu, namun otaknya terus memberi komando agar cairan bening tersebut selalu diproduksi, bahkan dalam jumlah yang lebih banyak sehingga membuat kedua matanya semakin membengkak dan kemerahan.

Akupun menggendongnya ke kamar tanpa ada penolakan sedikitpun dari Hye ri. Ya Tuhan, apakah ini bisa disebut tubuh manusia normal? Begitu kurus dan ringan. Apa yang dia makan sebenarnya? Apakah dia tidak makan dengan baik akhir – akhir ini?

“Baiklah kau tunggu disini sebentar, aku akan kembali secepat mungkin. Jangan kemana – mana dan kumohon jangan berbuat hal yang macam – macam. Arrasseo!”

***

Dia masih saja sesenggukan begitu aku kembali ke kediamannya. Ini sudah 1 jam lebih dan dia masih saja belum berhenti menangis. Akhirnya kuurungkan niatku untuk langsung ke kamarnya dan menunggunya dari luar pintu.

Setelah Hye ri sedikit tenang dan tidak ada lagi suara tangis, aku mulai berdiri dan masuk ke kamarnya, kembali mendekatinya dan duduk disampingnya. Kugenggam tangannya erat sembari memperhatikan raut mukanya yang begitu sayu. Pandangannya kosong, menatap lurus kedepan. Aku bahkan yakin, kalau dia tidak menyadari keberadaanku meskipun aku sedang didekatnya dan menggenggam tangannya seperti ini.

“Kajja, kita makan dulu. Aku sudah membeli sushi kesukaanmu.” Ucapku pelan sambil menarik lengannya. Dia berdiri dan mengikuti langkah kakiku untuk berjalan ke ruang makan. Masih tetap dengan pandangan kosongnya. Dia sama sekali tidak memperhatikan langkah kakinya sehingga mau tidak mau, dia harus tersandung barang – barang yang tertata disana. Kalau saja aku tidak memeganginya, aku yakin, dia tidak hanya akan tersandung. Dia pasti akan langsung terjatuh begitu saja.

“Sudahlah, kau duduk disini saja. Aku akan menyuapimu.” Ujarku pada akhirnya karena aku sudah jengkel melihat kelakuannya yang sudah seperti mayat itu. Aku menyuapinya secara perlahan dan dengan kesabaran yang ekstra karena aku harus menunggu membuatnya mau menelan semua sushi yang ada dimulutnya. Ya Tuhan, Hye ri. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu seperti dulu? Apakah jatuh cinta kepadamu membuatmu terluka sampai seperti ini? Apakah mencintaimu itu sebuah dosa? Apakah jatuh cinta padamu itu sebuah karma? Apakah aku salah kalau aku terlalu mencintaimu?

Continue reading

No Other Part 8

Hye ri’s POV

Dadaku seakan berhenti berdetak ketika Eunhyuk mengatakan kalau yoeja yang sedang bersama dengan Donghae adalah tunangannya. Secepat itukah dia mendapatkan tunangan? 4 bulan memang tidak bisa dibilang singkat, tapi aku tidak menyangka kalau dalam kurun waktu itu, dia sudah menemukan penggantiku.

Dari awal memang aku yang salah dan sengaja meninggalkannya. Bukankah seharusnya aku sudah tidak apa – apa melihatnya bersanding dengan yoeja lain? Tapi kenapa rasanya masih sesakit ini? Ini benar – benar sakit.

“Aku harus kembali ke kampus.” Ucapku singkat dan tanpa menunggu persetujuan mereka aku langsung meninggalkan mereka. Aku keluar dari cafe dan berjalan ke jalanan. Aiiissshhh aku lupa kalau aku tidak membawa mobil sekarang. Ini gara – gara Eunhyuk yang tiba – tiba datang ke kampusku dan menyeretku untuk ikut dengannya.

Aku berjalan pelan di trotoar sambil menenangkan perasaanku. Aku juga sengaja tidak mencari taksi. Berjalan sambil menikmati lalu lintas ibu kota, mungkin saja bisa sedikit menghiburku. Ya Tuhan, aku tidak tahu kalau rasanya sesakit ini. Kenapa aku harus kembali dipertemukan dengannya? Bukankah selama ini aku kabur untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka?

Air mataku mulai jatuh setetes demi setetes ke pipiku. Ciiihhh, aku benar- benar cengeng sekarang. Aku tidak tahu kenapa tiba – tiba saja aku berubah lagi menjadi yoeja yang cengeng. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menangis lagi hanya karena namja. Yang jelas, kehidupanku kembali berubah setelah aku mengenal Lee Donghae. Bukan hanya kehidupanku yang berubah. Tapi juga pribadiku. Lihatlah Lee Donghae. Kau sudah merubahku menjadi yoeja yang cengeng. Continue reading

No Other Part 7

Kyuhyun’s POV

Aku mengucek kedua mataku secara perlahan dan mengedarkan pandanganku ke sekitarku. Dimana ini? Ini bukan kamarku. Tidak mungkin juga Sungmin Hyung tiba – tiba mengecat dorm dengan warna biru muda karena dia menyukai warna pink.

Aku memegang kepalaku yang sepertinya masih sedikit berputar – putar. Astaga, kepalaku benar – benar pusing sekarang. Seperti baru saja dihantam benda yang beratnya ratusan kilo.

Akupun turun dari ranjang dan mulai berjalan keluar kamar dan aku baru menyadari kalau ini adalah rumah Vannessa. Bayangan kejadian tempo hari pun tiba – tiba masuk ke memori otakku. Aku ingat kalau semalam aku minum beberapa botol soju dan mungkin tanpa sadar aku mengendarai mobilku kesini. Tapi, kemana yoeja itu? Ini hari minggu, jadi tidak mungkin dia pergi ke kampus.

Aku pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Sudah ada makanan di meja makan, dan aku yakin kalau itu pasti buatan Vannessa. Dia tidak pintar memasak, dan hanya dia yang bisa membuat sushi berantakan seperti itu. Aku pun tersenyum geli dan menghampiri meja makan itu. Bukannya tertarik dengan sushi yang ada dihadapanku, tapi mataku malah tertarik dengan amplop biru muda yang tergeletak dengan manis disebelah wassabi. Aku mengambil amplop tersebut dan mulai membaca deretan tulisan yang tertulis disurat. Continue reading

(JungSoo Couple) Spring Happiness

Soo Ra’s POV

“Kyaaaa,akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku di kota Seoul.” Kataku riang sambil menarik koperku. Aku baru datang dari Australia untuk mengurusi bisnis Appa disana dan selama beberapa tahun itu aku sama sekali tidak menginjakkan kakiku di negeri gingseng tercintaku ini. Kebetulan ini sedang musim semi dan saat musim seperti ini Seoul benar – benar sangat indah. Aiiissshhh aku sungguh merindukan negriku ini.

Dengan sesegera mungkin aku menarik koper merahku ke bagian imigrasi untuk pengecekan Passpor dan Visa. Saking senangnya aku tidak begitu memperhatikan jalanku dan orang – orang disekitarku. Aku menubruk seseorang dan membuat koper serta barang bawaan kami berantakan. Aiiissshhh kenapa aku jadi ceroboh seperti ini?

“Joesoeamnida. Saya tidak sengaja.” Kataku sopan sambil membungkukkan badan. Meskipun sudah beberapa tahun di Australia hal itu tidak membuatku melupakan kebiasaan orang Hangeul untuk selalu membungkukan badan.

“Ne,gwenchana aghessi.” Balasnya ramah sambil tersenyum padaku. Pffuuuhhh untung saja orang itu tidak memarahiku karena kecerobohanku. Sangat tidak lucu kalau hari pertamaku kembali di Seoul sudah mendapat masalah seperti itu.

Kami berdua merapikan barang bawaan kami yang jatuh berantakan akibat tubrukan tadi. Barang – barangku lumayan banyak dan orang yang sudah aku tubruk tadi ikut membantu membereskan barang – barangku. Aigooo baik sekali orang ini. Padahal aku sudah menabraknya tapi dia malah membantuku membereskan barang – barangku. Setelah selesai merapikannya aku kembali membungkukan badanku dan segera meninggalkan orang tersebut.

“Khamsamnida sudah membantu dan Sekali lagi joesoeamnida.” Setelah selesai merapikannya aku kembali membungkukan badanku sambil memberikan senyum termanisku dan segera meninggalkan orang tersebut. Hmmmm kenapa sepertinya aku familiar dengan muka orang tadi?

Leeteuk’s POV

Hari ini super junior baru kembali dari Vietnam setelah konser SS3 di sana. Setelah sampai Incheon kami langsung bergegas menuju tempat imigrasi. Kami sangat lelah dan kami ingin segera sampai di dorm untuk istirahat mengingat jadwal kami yang lumayan padat.

Aku melihat kearah dongsaeng2 ku yang terlihat sekali kalau mereka semua sangat lelah. Meskipun mereka tidak menunjukannya namun aku sudah sangat hafal dengan mereka semua.

Tidak seperti biasanya, hari Ini Incheon sangat ramai. Di jam – jam segini biasanya Incheon tidak seramai ini dan saat sedang berjalan menuju bag imigrasi tiba – tiba saja ada seorang yoeja yang menabrakku sehingga membuat koper dan bawaan kami berdua tercecer. Mau kemana sebenarnya yoeja ini? Jalannya cepat sekali sampai – sampai tidak memperhatikan jalan dengan baik.

“Joesoeamnida. Saya tidak sengaja.” Katanya sopan padaku sambil membungkukkan badan. Aku melihat ke arah yoeja tersebut kemudian ikut membungkukkan badan badanya.

“Ne,gwenchana aghessi.” Jawabku pelan sambil tersenyum. Setelah itu Dia langsung merapikan barang – barang yang berserakan di lantai. Dia terlihat kesulitan saat membereskan barang – barangnya yang banyak itu. Reflek aku membantunya mengemasi barang – barangnya. Tanpa sadar aku mengamati setiap gerak – geriknya. Cantik dan anggun. Continue reading

No Other Part 6

Hye ri’s POV

Aku membuka kedua mataku pelan sembari memegangi kepalaku yang sakitnya minta ampun. Apa ini? Perban? Kenapa kepalaku diperban seperti ini? Dan selang ini? Kenapa bisa selang infus ini menancap dengan sempurna ditanganku?

Aku mengingat – ingat kembali kejadian sebelumnya dengan harapan bisa menjelaskan kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini. Aku mulai ingat kalau sebelumnya aku sedang mengendarai ferrariku dan mendadak kepalaku pusing. Pasti aku menabrak sesuatu sampai akhirnya aku bisa ada disini. Mendadak pula, aku jadi teringat masalah – masalah yang sedang kuhadapi.

Ciiiihhhh, kenapa aku tidak mati saja? Kenapa harus ada orang yang menolongku? Kalau aku mati, sepertinya itu lebih baik.

Aku melepas selang infus yang menancap ditanganku. “Awwwwww” teriakku pelan. Setelah itu, aku turun dari ranjangku dan mengganti pakaian pasien ini dengan bajuku yang tergantung di tembok. Aku hendak keluar dari ruangan ini, Namun mendadak seorang yoeja muncul dari balik pintu dan mengagetkanku.

“Kau sudah siuman? Syukurlah. Tapi, kenapa kau tidak tiduran saja di ranjang? Keadaanmu belum sembuh total.” Cerocosnya. Aku mengamatinya mulai dari atas sampai bawah. Apa dia yang menolongku?

“Nugu?”

“Shin Hyun Hee imnida.” Ucapnya ramah sambil tersenyum kearahku.

“Kau yang menolongku?”

“Ne. Aku melihat sebuah mobil menabrak pohon dipinggir jalan dan begitu aku melihatnya, aku menemukanmu pingsan di dalam. Untung saja hanya kepalamu yang terbentur setir.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk – angguk pelan dan tetap memaksa untuk keluar dari ruangan. Lagi – lagi ada seseorang yang muncul dari balik pintu. Cho Kyuhyun? Bagaimana dia bisa ada disini?

“Yakk, kenapa turun dari ranjang? Lihat, lenganmu berdarah lagi.” Bentaknya padaku. Aku melihat lenganku bekas infus tadi dan memang sudah ada banyak darah mengalir disana. Melihat begitu banyak darah yang mengalir, mendadak kepalaku menjadi pusing. Meskipun aku kuliah di bidang kedokteran, tapi tetap saja aku takut melihat begitu banyak darah.

“Gwenchanayo? Aiiissshhh kau ini bandel sekali.” Ujar Kyuhyun sambil membantu tubuhku yang oleng itu dan mengantarkanku kembali ke ranjang. Dia langsung memanggil perawat untuk membersihkan darah yang tercecer dan memerban tanganku agar darah tersebut tidak lagi keluar. Continue reading

Destiny From Heaven Part 1

Dari kejauhan, nampak kalau ada seseorang yang memperhatikan Hye ri dan Donghae. Dia meletakkan kedua tangannya di dadanya. Nampaknya dia sedikit kesal melihat pemandangan yang sedang diperhatikannya itu.

“Ternyata kau sudah menemukannya eh? Tapi tak masalah walaupun kau sudah menemukannya terlebih dulu daripada aku. Walau bagaimanapun dia tidak mengingatmu dan dia akan menjadi milikku pada akhirnya.” Gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

“Eunhyuk Oppa, kenapa kau menyuruhku kemari? Aiiissshhh, padahal aku sedang berkunjung ke rumah Lee Min Hoo.” Ucap seorang gadis yang muncul tiba – tiba disamping Eunhyuk.

“Tugasmu sudah mau di mulai Yunha~ya. Jadi jangan buang – buang waktumu hanya untuk namja – namja bodoh diluar sana.” Kata Eunhyuk tanpa sedikitpun melepas pandangannya dari Hye ri dan Donghae.

“Kau sudah menemukannya?” Tanya Yunha yang seolah – olah tahu arah pembicaraan mereka. Continue reading

More Than True Love Part 1

annyeong annyeong…..

sesuai permintaan readers #apaan juga# ini termasuk ke dalam Sequel True Love. karena aku bingung mau pake judul apa kalau tiap sequel beda judul, jadi aku memutuskan untuk memakai judul ini. #kelamaan mikir judul gak publish – publish# heheheheheheheh ^^V

jadi untuk sequel True Love selanjutnya aku mungkin mau pakai judul ini.

dan untuk catatan, FF ini kayaknya NC 17 deh. jadi bagi yang berusia kurang dari 17 harap mundur kebelakang. aku tidak ingin di hari yang masih fitri ini otak kalian terkontaminasi dengan hal – hal seperti ini. hohohohohohohoho #lagian authornya post NC di bulan gini#

oke, happy reading all.

CHUUUUUU

 Hye ri’s POV

Sinar matahari mulai menyeruak masuk melalui celah – celah gorden kamarku. Aku mengeryipkan mataku pelan kemudian menguceknya. Aku mengumpulkan semua nyawaku dan setelah aku yakin semuanya telah berkumpul menjadi satu ke dalam tubuhku, aku mulai bangun dari tidurku. Aku mendengar suara keributan diluar kamarku. Aigooooo siapa sih pagi – pagi begini berisik sekali?

“Aiiissshhh, siapa yang pagi – pagi begini berisik?” Sungutku kesal. Aku menarik selimutku dan turun dari ranjangku. Aku berjalan kearah pintu dan dengan sedikit sempoyongan aku membuka pintu. Aku mengeryitkan dahiku karena heran. Apakah aku sedang bermimpi? Kenapa aku merasa kalau ada member super junior dihadapanku?

“Annyeong Lee Hye ri.” Sapa Wookkie padaku. Ini bukan mimpi. Super Junior memang sedang ada di depanku. Apa yang dilakukannya di rumahku? Yakk, bagaimana mungkin mereka bisa ada disini pagi – pagi begini?

“Yakk, kalian semua. Kenapa kalian bisa ada disini?”

“Apa maksudmu dengan kenapa kami ada disini? Bukankah memang kami ada disini sejak 6 tahun yang lalu?” Ucap Sungmin Oppa yang masih mengenakan piyama pink nya. Kali ini aku semakin heran. Apa maksud kata – katanya barusan? Aku kembali memutar otakku untuk berfikir ulang, sedangkan mereka masih terdiam dalam posisi mereka masing – masing sambil memperhatikanku. Continue reading

No Other Part 5

 

Author’s POV

Kakek Hye ri yang semula tinggal di Inggris hari ini memutuskan untuk kembali ke Korea bersama dengan Appa dan Eomma Hye ri. Mereka berencana untuk segera mengurus pernikahan Donghae dan Hye ri mengingat pertunangan mereka sudah berjalan kurang lebih setengah tahun.

Donghae tentu saja senang – senang saja dengan berita tersebut saat berkumpul bersama di kediaman keluarga Choi. Namun tidak bagi Hye ri, Minho dan Kyuhyun yang pastinya juga mendengar berita tersebut.

“Harabeoji, kenapa selalu mendadak seperti ini?” Ujar Minho saat kakeknya mengumumkan bahwa pernikahan harus segera dilaksanakan.

“Mendadak bagaimana? Ini tidak mendadak. Masih tiga bulan lagi sebelum pernikahan dilaksanakan.”

“Tapi haraboeji, kau tidak menanyakan pendapat mereka dulu? Yang akan menikah itu kan mereka.” Minho masih tetap pada pendiriannya.

“Untuk apa menanyakannya lagi? Mereka berdua sudah bertunangan dan tentu saja akan menikah. Lee Donghae, kau setuju kan dengan keputusan ini?” Tanya sang kakek pada Donghae yang sedari tadi hanya diam.

“Tentu saja Haraboeji. Aku sangat setuju dengan hal ini.” Ucap Donghae mantap sembari menggenggam tangan Hye ri yang duduk disampingnya.

“Nah, sudah jelas kan? Semua sudah setuju.”

“Tapi haraboeji belum menanyakan pendapat Hye ri. Haraboeji selalu memutuskan kehendak tanpa bertanya pada dia. Berilah dia kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Haraboeji, menikah itu bukan sesuatu hal yang sepele.” Minho masih saja beradu pendapat dengan kakeknya. Continue reading