Author’s POV

Pertunangan Hye ri dan Donghae berjalan lancar. Lebih tepatnya sempurna. Tamu yang diundang hanya kerabat dekat Hye ri dan pihak SM-Ent saja. Itu juga tidak semuanya diundang. Hanya teman – teman Minho dan teman – teman Donghae karena memang mereka yang berhubungan dekat. Tentu saja kalau bersama mereka rahasia akan bisa terjaga dengan baik.

Hye ri hanya bisa memandang sekeliling dengan malas. Dia memang tidak setuju dengan pertunangan ini. Namun mau tidak mau Hye ri harus tetap bertunangan.

“Jaggiya, kajja. Aku akan mengenalkanmu pada member Super Junior.” Donghae menarik lengan Hye ri kemudian mengajaknya menemui member lain. Hye ri yang sedang malas bertengkar itu hanya menurut dan mengekor di belakang Donghae.

“aigooo Hae~ya. Yeoppoda. Jeongmal yeoppo. Yak kenapa kau menyembunyikannya dari kami hah? Kau takut dia akan jatuh cinta padaku?” Heechul langsung berlari kearah Donghae dan member lain yang tadi sedang mengbrol langsung mengekor dibelakang Heechul untuk berkenalan lebih dekat dengan Hye ri.

Hye ri berkenalan dengan kesembilan member satu persatu. Saat berkenalan dengan member ke Sembilan Hye ri terlihat syok dan kaget. Seperti luka lama yang terbuka kembali.

Hye ri’s POV

Aku sedang berada diantara namja – namja yang disebut – sebut sebagai super junior. Awalnya aku tidak begitu tertarik berkenalan dengan mereka semua namun setelah mengenalnya ternyata aku salah. Mereka sangat menyenangkan. Setidaknya bercanda dengan mereka bisa sedikit melupakan kekesalanku atas pertunangan ini.

Aku berkenalan dengan para member satu persatu. Agak sulit mengingatnya karena memang aku tidak begitu mengenal mereka seperti kebanyakan orang. Saat berkenalan dengan member terakhir tanganku seakan kaku dan mulutku juga seakan – akan kelu. Lukaku seakan kembali menganga. Mengapa aku harus bertemu dengan namja itu lagi? Aiisshhh kenapa rasanya masih sesakit ini? Ini sudah 5 tahun berlalu namun……… aigoooo aku merindukannya.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali menguasai perasaanku. Aku tersenyum padanya kemudian membungkuk dan memperkenalkan diriku padanya. “annyeonghaseyo, Choi Hye ri imnida”. Apa aku sudah bisa disebut seorang artis sekarang? Karena aku yakin sekali aktingku sungguh  bagus sekarang ini. Bagaimana tidak, aku harus beruasah menguasai perasaan dan fikiranku agar tidak segera berlari dan memeluknya. Walaupun merindukannya tapi dia sudah menyakitiku.

“CHO KYUHYUN imnida.” Dia menjawab perkenalanku namun dengan sedikit angkuh. Tidak sopan sekali. Ada apa dengannya? Dia sepertinya menjadi pribadi yang berbeda. Apa karena sikapku tadi? Aiissshh kenapa aku malah memikirkannya. Dia sudah menyakitiku kenapa aku masih peduli terhadapnya?

“YAK Kyunnie~ya. Kau ini. Sopanlah sedikit pada kakak iparmu. Lihat kau membuatnya takut.” Donghae memarahi Kyuhyun sambil menggenggam tanganku. Diam – diam pandangan kami saling bertemu. Dia menatap kearahku tajam. Sepertinya dia semakin evil saja. Aku bergidik ngeri kemudian melepaskan genggaman Donghae.

“yeorobeun mianhae. Aku kesana sebentar.” Aku berpamitan kepada yang lain kemudian berjalan meninggalkan mereka. Aku menghampiri sahabatku Park Yunha yang sedang mengobrol dengan Minho. Aku tidak heran karena memang dia sudah dekat dengan Minho sejak masih bersekolah. Aku bisa dekat dengannya juga karena dia dekat dengan Minho.

“YAK Hye ri~babo. Darimana saja kau hah? Aku menghadiri pertunanganmu tapi kau sama sekali tidak muncul dihadapanku.” Yunha berjalan mendekati ku kemudian memelukku. Aku pun balas memeluknya sambil menyunggingkan senyum terpaksaku padanya.

“jangan tersenyum seperti itu. Kau jelek sekali. Wae geurae? Kenapa raut mukamu seperti itu dihari pertunanganmu?” aiisshh pintar sekali anak ini. Apa sudah tergambar jelas dikeningku tentang perasaanku saat ini? Aku hanya mengedikkan pundakku kemudian duduk di sofa bersama teman – teman Minho. Aku memandang kearah Minho dengan tatapan minta tolong. Teman curhatku hanya ada dua orang. Yaitu Yunha dan Minho. Dan saat ini aku sedang ingin bercerita dengan Minho saja.

Minho’s POV

Aku melihatnya berjalan kearah ku dengan langkah gontai. Aku yakin ini pasti gara – gara pertunangan ini. Jujur saja aku juga tidak setuju dengan pertunangan ini. Aku tidak rela melihatnya bersanding dengan namja lain karena aku menyukainya. Boleh – boleh saja orang lain menganggapku egois. Tapi ini juga diluar kendaliku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mempunyai perasaan seperti ini padanya. Apa aku salah karena hal ini? Apa aku salah kalau aku mencintainya?

“Wae geurae? Kenapa memandangku seperti itu?” dia memandangku dengan tatapan minta tolong. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana menolongnya. Tidak ada yang bisa menghentikan perintah kakek. Siapapun. Lagipula dia sudah resmi bertunangan apa lagi yang bisa ku perbuat? Kalau misalnya ada cara untuk membatalkannya, sekecil apapun kemungkinannya untuk berhasil aku pasti akan mencobanya.

“arasseo. Kau juga jangan memandangku seperti itu. Entahlah perasaanku sedang ehm…… bercampur menjadi satu.” Dia menyandarkan kepalanya pada sofa kemudian menutup kedua matanya dengan lengannya. Aku ingin sekali memeluknya dan memberikannya kekuatan. Namun itu tidak mungkin. Kalau aku melakukannya aku akan semakin menyukainya.

“YAK jangan seperti itu. Ini salahmu karena kau lahir sebagai seorang yoeja. Kalau kau sebagai namja aku yakin kau tidak akan mengalami hal ini. Lihatlah aku yang terlahir dikeluarga yang sama denganmu tapi kehidupanku menyenangkan.” Aku membanggakan diriku sendiri didepannya. Setidaknya dengan beradu mulut dengannya mungkin akan membuatnya sedikit lupa dengan semua ini.

“Aiiiisshhh kau ini sama saja. Membuat moodku semakin jelek saja. YAK awas saja kalau sampai Haraboeji tiba – tiba menyuruhmu untuk melakukan sesuatu yang gila. Aku akan ganti menertawakanmu.” Dia bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkanku dan member Shinee yang lain. Dia sudah mulai memanyunkan bibirnya. Itu tandanya dia sudah mulai jengkel. Aigoo kenapa dia tampak manis saat jengkel seperti itu? Sepertinya apapun ekspresinya aku menyukainya. Aiiissshhh kenapa aku bisa jatuh cinta pada yoeja kasar seperti dia? Dan kenapa harus dengan sepupuku?

Kyhyun’s POV

“Hyung aku kesana sebentar.” Aku berpamitan pada Sungmin Hyung untuk berjalan – jalan sebentar sambil menenangkan otakku. Aku tidak menyangka kalau si ikan itu bertunangan dengan Vannessa. Aiisshhh ternyata namanya adalah Choi Hye ri. Vannessa hanya nama baratnya saja. Bagaimana mungkin dunia bisa sesempit ini? Begitu banyak yoeja di Seoul dan kenapa harus dengannya? Dengan gadisku. Meskipun sudah 5 tahun berlalu,aku sepenuhya belum bisa melupakannya. Aku sudah mencari tentang keberadaannya beberapa tahun ini untuk menemuinya kembali namun hasilnya nihil. Aku tidak mengetahui jejaknya dan ternyata dia ada Seoul. Tempat dimana aku dan dia sangat dekat. Siaaalll kenapa aku tidak tahu nama aslinya? Kalau aku tahu aku pasti bisa lebih mudah mencari tahu tentangnya.

Aku naik keatas balkon gedung ini. Saat aku sudah sampai di balkon aku menyadari bahwa aku ternyata tidak sendirian disana. Aku melihat seorang yoeja sedang duduk di bangku panjang dekat pohon maple. Kalau aku perhatikan dari pakaiannya sepertinya aku mengenalinya. Aku berjalan mendekat kearahnya. Ternyata memang dia. Tanpa permisi aku duduk disampingnya. Sepertinya dia belum sadar kalau aku duduk disampingnya. Dia seperti sedang melamun.

“lama tak bertemu denganmu Vannessa Choi. Ah mian maksudku Choi Hye ri.”

Dia kaget lalu menoleh kepadaku. Tatapan mata kami saling bertemu dengan tanpa sengaja. Aisshhh aku merindukan yoeja ini. Sangat merindukannya. Ternyata lama tak bertemu dengannya membuat perasaanku semakin mandalam saja padanya.

“mau apa kau kemari Tuan Cho Kyuhyun? A ternyata kau masih mengingat namaku?” dia menatapku dengan tatapan sinis kemudian kembali memalingkan mukanya ke depan. Aku tahu dia pasti masih marah padaku karena kejadian waktu itu.

“kau meragukan IQ ku hah? Kau tahu sendiri aku siswa terpintar dikelas.”

“Ciihh memangnya aku peduli. Terpintar ataupun tidak bagiku kau sama saja.” Dia hendak beranjak dari tempat duduknya. Tapi dengan cekatan aku menahan lengannya. Dia meronta – ronta untuk ku lepaskan genggamannya namun dia tidak bisa melebihi kekuatanku. Aku masih ingin berbicara banyak padanya. Sepertinya ada berbagai pertanyaan yang berputar – putar disekitar otakku.

“Yak Appo. Lepaskan cengkeramanmu ini.”

“aku akan melepaskannya asal kau mau mengobrol denganku disini sebentar. Aku ingin mengobrol denganmu.”

“Mwo? Kau fikir kau siapa berani menyuruhku hah? Dengar tuan Cho Kyuhyun. Aku sama sekali tidak ingin berbicara denganmu apalagi mengobrol. Sekarang lepaskan tanganku.” Dia kembali mencoba melepaskan cengkramannya. Aku mencengkramnya semakin kuat karena aku tidak ingin dia lari.

“tapi aku mau berbicara denganmu. Sekarang duduk atau aku akan terus menahanmu seperti ini sampai besok.” Aku berbicara datar namun dengan nada menyuruh disana. Dia sepertinya berubah menjadi pribadi yang berbeda. Dia lebih angkuh dan tidak lemah lembut seperti dulu.

Hye ri’s POV

“tapi aku mau berbicara denganmu. Sekarang duduk atau aku akan terus menahanmu seperti ini sampai besok.” Dia mengatakan dengan nada yang sangat datar namun ada nada menyuruh disana. Dia fikir aku takut dengan ancamannya hah?

“kau fikir aku takut dengan ancamanmu tuan Cho Kyuhyun? Tidak! Ancamanmu sama sekali tidak membuatku takut.” Aku menatap matanya dengan tatapan menantang. Astaga mata ini. Mata yang dulu selalu menatapku penuh dengan cinta. Aiisshhh kau harus bisa menguasai perasanamu Hye ri. Kau tidak boleh tergoda dengan namja seperti dia lagi.

“Ciihhh kau menantangku nona Vannessa. Selain berubah menjadi yoeja yang semakin cantik ternyata kau juga berubah menjadi yoeja yang pemberani. Arasseo kalau kau memang tidak mempan dengan ucapanku apa aku perlu mengancammu dengan……” dia tidak melanjutkan kata – katanya dan langsung meraihku ke dalam pelukannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan sepertinya hendak menciumku.

“YAK apa yang kau lakukan hah? Lepaskan aku. Kau mau apa hah? Kau tidak ingat aku ini tunangan Hyungmu?” aku berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya namun gagal. Usahaku sia – sia saja. Tenaganya sangat kuat. Kenapa badan sekecil ini bisa mempunyai tenaga yang besar seperti itu?

“bukannya kau tidak takut dengan ancamanku nona Vannessa? Ah maksudku Nona Choi Hye ri.” Wajah kami semakin dekat sekarang. Aigoo eottokhae?

“Hyung kau sedang apa?” kami dikagetkan oleh suara seorang namja. Kyuhyun melepaskan tangannya dari tubuhku. Dan dengan sesegera mungkin aku agak menjauh darinya. Aku melihat siapa yang datang dan ternyata dia adalah Minho. Aku harus berterima kasih padanya karena sudah meyelamatkanku.

“Hye ri~ya ada kau juga? Sedang apa kau disini? YAK Donghae Hyung kelabakan mencarimu. Cepat temui dia.” Minho menyuruhku untuk turun dan menemui Donghae di hall. Aku hanya menurut kemudian segera turun dari balkon. Sebelum turun aku memeluk dan mencium pipi Minho sebentar sebagai rasa terima kasihku padanya. Kalau tidak ada  dia aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku. Aigoooo kenapa Kyuhyun berubah menjadi namja yang mengerikan seperti itu?

Donghae’s POV

Aiissshhh kemana yoeja itu pergi? Ini pertunangan kami namun dia malah menghilang begitu saja dari pesta ini. Setiap orang menanyakan padaku kemana tunanganku itu dan aku jadi kebingungan sendiri menjawabnya karena aku memang tidak tahu posisinya sekarang.

“Jaggiya.” Teriakku saat aku melihatnya turun dari tangga. Sepertinya dia baru menyendiri di balkon. Setahuku tangga itu menuju ke balkon gedung ini.

“Aku mencarimu kemana – mana Jaggiya. Kau menghilang kemana? Kajja, kita kesana. Hyungdeul terus – menerus menanyakanmu.” Aku menarik tangannya pelan dan mengajaknya ketempat member super junior yang sedang berada di taman. Heran kenapa dia jadi pendiam seperti ini?

“Jaggiya, gwenchanayo?” tanyaku khawati padanya.

“Ah ne, gwenchana.” Jawabnya pelan.

***

Aku memandang yoeja yang sedang mengobrol dengan member – memberku ini dengan seksama. Aku tak pernah sekalipun bisa mengalihkan perhatianku darinya. Aigooo beruntungnya aku memiliki yoeja secantik itu menjadi tunanganku. Tapi kenapa sepertinya hanya aku yang merasa bahagia dengan pertunangan ini?

Aku tahu dia memang tidak bersemangat seperti ku dengan pertunangan ini. Sejak pesta dimulai dia sama sekali tidak menunjukan senyum di bibirnya. Walaupun aku melihatnya tersenyum, tapi aku yakin itu adalah senyum paksaan yang dia tunjukan untuk orang – orang sekelilingnya. Aku memang merasa bersalah dengan ini semua. Tapi apakah aku tidak boleh mempertahankan cintaku? Mempertahankan perasaanku? Setelah sekian lama aku menunggu hari ini tiba, mana mungkin aku melepaskannya begitu saja? Tidak salahkan kalau aku mengambil cara ini? Setidaknya mungkin masih ada harapan kalau dia akan menyukaiku dan bahkan mencintaiku seperti aku sangat mencintainya.

Author’s POV

Kini sudah menginjak bulan kedua pertunangan Hye ri dan Lee Donghae. Hampir setiap hari Donghae selalu pergi ke apartemen Hye ri. Hye ri awalnya risih karena Donghae selalu saja merecoki Hye ri dengan manja. Namun lama kelamaan Hye ri jadi terbiasa dengan keadaan itu semua.

Pagi ini Super Junior baru pulang dari konser di Taiwan. Donghae meminta Hye ri untuk menjemputnya. Sebenarnya Hye ri sedikit malas namun karena Donghae yang selalu merengek – rengek seperti anak kecil membuat Hye ri mengalah untuk menjemputnya.

***

“Jaggiya……. Gomawo sudah menjemput.” Donghae berlari menghampiri Hye ri kemudian memeluknya di depan umum. Kontan saja Hye ri dan member lain menjitaknya secara bergantian.

PLETAAAKKKKK PLEETTTAAAKK

“YAK waeyo? Heechul Hyung, Hyuk~ah kenapa kalian menjitakku. Kau juga Jaggiya kenapa kau ikut – ikutan menjitakku?” Donghae mengelus kepalanya itu sambil berteriak karena protes dengan perlakuan yang baru saja dia dapat.

“aiisshhh Babo. Kau ingin semua yang ada disini tahu hah? Kau ingin wartawan – wartawan mengelilingimu? Kau ingin melihat tunanganmu ini hancur ditangan para Antis?” Heechul memarahi Donghae akibat kecerobohannya itu dan Donghae hanya menanggapinya dengan senyum puppy eyes nya itu. Sementara Hye ri langsung setelah mendengar Heechul mengatakan ‘antis’ dan ‘hancur’.

Hye ri’s POV

“aiisshhh Babo. Kau ingin semua yang ada disini tahu hah? Kau ingin wartawan – wartawan mengelilingimu? Kau ingin melihat tunanganmu ini hancur ditangan para Antis?” Heechul oppa memarahi Donghae akibat kecerobohannya itu dan Donghae hanya menanggapinya dengan senyum puppy eyes nya itu. Sementara aku? Jujur saja aku syok begitu mendengar kata ‘ANTIS’ dan ‘HANCUR’. Sepertinya itu terdengar amat sangat mengerikan.

“Oo…oppa. A…ap…apa maksudmu dengan Hancur dan Antis?” aku bertanya pada Heechul oppa dengan sedikit gugup. Aigoo bagaimana kalau sampai hal itu terjadi? Andwae!! Aku tidak mau hidupku berakhir tragis seperti itu.

“Hyung, jangan membuat Hye ri ketakutan. Kajja Jaggiya. Yoereobeun aku ikut dengan mobil Hye ri.” Donghae menarik tanganku pelan kemudian mengajakku ke ferarriku. Aku yang masih syok mendengar kata – kata Heechul oppa barusan hanya bisa mengikutinya dari belakang.

“YAK Babo. Jangan pedulikan kata – kata Heechul Hyung. Kalaupun pertunangan kita diketahui public dan banyak antis, aku akan melindungimu. Aku akan pastikan tidak ada yang menyakitimu walaupun hanya seujung kukumu.” Donghae berkata dengan tenang sambil membelai rambutku. Aku melirik kearahnya karena jujur saja perkataannya barusan mengagetkanku. Ini seperti bukan Donghae. Kenapa setelah dia pulang dari Taiwan dia jadi berubah seperti ini?

“Yak Fishy. Gwenchanayo? Kau baik – baik saja kan? Kau demam? Apa saat kau di Taiwan kepalamu terbentur sesuatu?”

“anniyo? Yak Jaggiya jangan menatapku seperti itu. Aiisshh kau ini. Jeongmal boghosippeo jaggiya.” Dia memelukku sebentar kemudian kembali focus pada jalanan di depan kami. Aku masih memandanginya dengan tatapan bingung.

“aku lebih suka kalau kau manja dan cengeng daripada kau berbicara yang seperti itu.” Sahutku datar kemudian aku kembali fokus pada novel yang sedang aku pegang. Aigooo kenapa aku jadi deg – degan begini? Tidak biasanya aku merasa grogi berada di dekatnya seperti ini. Aiisshhh ini pasti gara – gara perubahan sikapnya tadi.

Neo gateun saram tto eopseo

         Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol

         Eodiseo channi

         Neo gateun joheun saram neo gatchi joheun saram

         Neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul

Minho calling? Ada apa anak ini menelponku? Tumben sekali dia menelponku pagi – pagi begini.

“yeoboseyo? Waeyo Minho~ya?”

“YAK BABO. Cepat ke Dormku sekarang. Bukannya kau sudah janji padaku untuk membawa kue untuk Taemin? Kau sedang dimana?” aku agak menjauhkan ponselku dari telingaku. Aiisshhh anak ini. Keras sekali dia berteriak apa dia tidak tahu kalau itu berpotensi membuat telingaku tuli? Apa dia fikir suaranya bagus?

“YAK jangan berteriak seperti itu. Aku tidak tuli. Heheheehe Minho~ya…….” Aku tidak melanjutkan kata – kataku. Aku sedang bersiap – siap untuk menutup telingaku karena aku yakin sekali dia akan berteriak sekarang ini.

“MWO? Kau lupa hah? Yak aku tidak mau tahu. Dalam waktu sepuluh kau sudah harus sampai di dorm beserta kuenya. Arraso!” Minho menutup sambungan telpon. Aiisshhh kalau aku tidak kesana dengan Kue tart ditanganku aku pasti akan dikuliti oleh Minho.

“waeyo Jaggiya? Kenapa raut mukamu jadi seperti itu? Wae geurae?”

“anniyo. Donghae~ya. Pinggirkan mobil sekarang.” Aku sudah tidak punya waktu lagi. Kemampuan menyetirku jauh lebih baik daripada si ikan ini. Jadi aku yang akan menyetir ferarriku karena kalau Donghae yang mengebut maka dalam waktu sepuluh menit bukannya sampai di dorm Shinee tetapi aku akan segera sampai ke akhirat.

Dia menatapku heran namun tetap meminggirkan ferarriku di pinggir jalan. Aku menyuruhnya duduk di kursi samping dan aku di kursi kemudi. Lalu tanpa aba – aba lagi aku langsung melesatkan ferrariku dengan cepat ke Toko kue milik Soo ra eonni. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari tempat ini.

“YAK JAGGIYA PELANKAN MOBILNYA.”

Minho’s POV

Aiiisssshhh kenapa dia datang bersama Donghae Hyung? Padahal ini masih sangat pagi tapi dia sudah berdua dengan Donghae Hyung? Aarrrgghhh kalau pagi – pagi seperti ini aku sudah melihat pemandangan menyebalkan ini sudah bisa dipastikan kalau mood ku akan jelek seharian ini. Darimana sebenarnya mereka berdua? Apa Hye ri sudah bisa menerima Donghae Hyung sebagai tunangannya?

Setelah memberikan kejutan untuk ultah Taemin kami memakan kue tart itu bersama – sama di ruang tengah. Aku ingin mengambil duduk di dekat Hye ri namun Donghae Hyung sudah mendahuluinya dengan duduk di sebelahnya sambil menggamit pinggang Hye ri mesra. Aku menatap Hye ri dan aku lihat dia biasa – biasa saja dengan perlakuan Donghae Hyung. Shiiiittt kenapa rasanya bisa sesakit ini? Astaga aku benar – benar di bakar rasa cemburu sekarang.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil tempat didekat Taemin. Posisi kami berdua berhadapan dengan Hye ri dan Donghae Hyung. Tanpa sadar aku selalu mengamati setiap tingkah laku mereka berdua. Donghae Hyung yang selalu manja pada Hye ri, dan Hye ri yang masih bersikap angkuh padanya. Namun sepertinya…… aiiissshhh aku tidak boleh seperti ini terus.

“OMO, sudah pukul 10.00” Hye ri tiba – tiba berdiri sambil berteriak. Kami semua yang ada di ruangan langsung mengelus dada karena kaget akibat teriakannya itu.

PLEETAAAAKKKK

“YAKK Hye ri~ya. Kalau kau seperti ini terus bisa – bisa dorm kami akan hancur.” Jonghyun Hyung langsung menjitak dan memarahi Hye ri. Kalau sedang di dorm Shinee maka tontonan gratis kami adalah perang mulut antara Jonghyun Hyung dan Hye ri. Kalau mereka sudah beradu mulut, maka dorm benar – benar akan hancur. Jadi sebelum hal itu terjadi aku segera membekap mulut Jonghyun Hyung dibantu oleh Onew Hyung dan Taemin membekap mulut Hye ri dibantu oleh Key.

“Kalau kalian beradu mulut maka dorm akan benar – benar hancur.” Kataku sedikit jengkel pada mereka berdua. “Hae Hyung, lebih baik segera ajak Hye ri pulang sebelum mereka memulai adu mulut.” Pintaku pada Donghae Hyung. Donghae Hyung langsung menarik lengan Hye ri pelan dan mengajaknya keluar. Awalnya Hye ri masih ingin membalas jitakan Jonghyun Hyung tadi, namun Donghae Hyung langsung menggendongnya layaknya seorang putri sehingga Hye ri tidak bisa lagi menolak untuk diajak pulang.

Darahku seakan mendidih melihat hal itu. Aku cemburu. Sangat cemburu. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan rasa cemburuku saat ini karena sebelumnya aku tidak pernah secemburu ini saat melihat mantan kekasihku yang terdahulu bersama dengan namja lain. Aarrgghhh Hye ri sudah membuat hidupku kacau.

Donghae’s POV

Aku menggendong Hye ri menuju ke ferrarinya. Kau tahu  bagaimana perasaanku sekarang? senang. Sangat senang. Aku tidak bisa bagaimana menggambarkan rasa senangku saat ini. Aku menggendongnya layaknya seorang putri dan dia mengalungkan kedua lengannya ke leherku. Aigooo aku sampai ingin pingsan saking senangnya.

“Yak Fishy kenapa kau deg deg an seperti itu? Hahahahaha kau grogi hah?” katanya menyibirku. Aigoo apa benar jantungku berdetak begitu cepat hingga dia bisa dengan mudah mengetahuinya?

“hahahahahahahahahahaha,, Yakk Fishy, sudah turunkan aku disini. Aku tidak ingin kau akan pingsan disini karena saking senangnya menggendongku. Hahahahahahahaha?” lagi – lagi dia mengejekku. Aiiiisssshhh yoeja ini.

“YAKK Jaggiya. Jangan selalu menggodaku seperti itu.” Aku sedikit mendengus kesal kearahnya.

“Hahahahahahahaaha Fishy,  mukamu merah sekali. Apa kau begitu mencintaiku sampai seperti itu hah? Aiiigooo uri Fishy, ternyata aku begitu berharga bagimu hah? Hmmmmmm bagaimana kalau sampai aku meninggalkanmu?”

DEEEGGGG

Aku langsung menghenikan langkah kakiku. Kami tepat berada di depan Ferrari merahnya. Kenapa dia tiba – tiba berkata seperti itu? Apa dia berniat meninggalkanku? Aku tahu dari awal dia memang tidak setuju dengan pertunangan ini. Tapi ini sudah berjalan lebih dari dua bulan. Apa dia masih belum bisa menerimaku?

Aku membuka pintu Ferrarinya kemudian mendudukkannya di kursi depan. Aku berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi. Aku mengemudikan Ferrari nya lumayan pelan sambil menikmati jalanan kota Seoul di jam – jam segini.

“yak yak Tuan Lee, kenapa kau diam saja? Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?”

“…………” aku hanya bisa diam membisu. Aku tidak tahu harus bagaimana aku menjawab perntanyaan tadi. Bagaimana kalau sampai dia meninggalkanku? Bagaimana dengan hidupku selanjutnya?

“geureom… lupakan perkataanku tadi. Hehhehehehe mian Fishy.”

“Aku tidak tahu apa yang akan tejadi pada hidupku kalau sampai kau meninggalkanku. Aku tidak tahu apakah aku masih akan bisa bertahan hidup tanpa hadirnya kau disisiku. Aku tidak tahu apakah aku masih menginginkan nyawaku atau tidak jika kau memang pergi dari hidupku.”

TBC

Advertisements

About eunhaekyu

i'm an ELF really really really really Lee Donghae and Lee Hyuk Jae joahae...... i think both of them are perfect....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s