Hye ri’s POV

Aku membuka kedua mataku pelan sembari memegangi kepalaku yang sakitnya minta ampun. Apa ini? Perban? Kenapa kepalaku diperban seperti ini? Dan selang ini? Kenapa bisa selang infus ini menancap dengan sempurna ditanganku?

Aku mengingat – ingat kembali kejadian sebelumnya dengan harapan bisa menjelaskan kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini. Aku mulai ingat kalau sebelumnya aku sedang mengendarai ferrariku dan mendadak kepalaku pusing. Pasti aku menabrak sesuatu sampai akhirnya aku bisa ada disini. Mendadak pula, aku jadi teringat masalah – masalah yang sedang kuhadapi.

Ciiiihhhh, kenapa aku tidak mati saja? Kenapa harus ada orang yang menolongku? Kalau aku mati, sepertinya itu lebih baik.

Aku melepas selang infus yang menancap ditanganku. “Awwwwww” teriakku pelan. Setelah itu, aku turun dari ranjangku dan mengganti pakaian pasien ini dengan bajuku yang tergantung di tembok. Aku hendak keluar dari ruangan ini, Namun mendadak seorang yoeja muncul dari balik pintu dan mengagetkanku.

“Kau sudah siuman? Syukurlah. Tapi, kenapa kau tidak tiduran saja di ranjang? Keadaanmu belum sembuh total.” Cerocosnya. Aku mengamatinya mulai dari atas sampai bawah. Apa dia yang menolongku?

“Nugu?”

“Shin Hyun Hee imnida.” Ucapnya ramah sambil tersenyum kearahku.

“Kau yang menolongku?”

“Ne. Aku melihat sebuah mobil menabrak pohon dipinggir jalan dan begitu aku melihatnya, aku menemukanmu pingsan di dalam. Untung saja hanya kepalamu yang terbentur setir.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk – angguk pelan dan tetap memaksa untuk keluar dari ruangan. Lagi – lagi ada seseorang yang muncul dari balik pintu. Cho Kyuhyun? Bagaimana dia bisa ada disini?

“Yakk, kenapa turun dari ranjang? Lihat, lenganmu berdarah lagi.” Bentaknya padaku. Aku melihat lenganku bekas infus tadi dan memang sudah ada banyak darah mengalir disana. Melihat begitu banyak darah yang mengalir, mendadak kepalaku menjadi pusing. Meskipun aku kuliah di bidang kedokteran, tapi tetap saja aku takut melihat begitu banyak darah.

“Gwenchanayo? Aiiissshhh kau ini bandel sekali.” Ujar Kyuhyun sambil membantu tubuhku yang oleng itu dan mengantarkanku kembali ke ranjang. Dia langsung memanggil perawat untuk membersihkan darah yang tercecer dan memerban tanganku agar darah tersebut tidak lagi keluar.

“Aku mau pulang.” Ucapku dingin saat mereka berdua membereskan ranjangku.

“Kau masih harus dirawat disini. Keadaanmu belum membaik.” Jawab Kyuhyun

“Kenapa kau menolongku?”

“Ne?” Hyun Hee terlihat kaget

“Kenapa kau tak membiarkanku mati saja?”

“Yakk, Vannessa. Kenapa bicara sembarangan?” Ujar Kyuhyun memarahiku.

“Jangan panggil aku Vannessa. Namaku Hye ri. Bukan Vannessa. Jangan sebut aku dengan nama itu lagi.” Aku berteriak dan tidak bisa lagi mengendalikan emosiku. Tanpa sadar pun aku menangis. Aku benci nama itu. Vannessa. Kenapa harus ada nama itu di diriku? Kenapa harus bertemu Cho Kyuhyun? Kenapa harus bertemu Lee Donghae? Dan kenapa harus ada sepupu? Aku benci keadaan ini. Aku benci keadaanku yang sekarang ini. Demi Tuhan, kalau saja aku bisa, aku ingin meninggalkan dunia ini secepatnya.

“Ehm… Mianhae, sepertinya aku harus pulang. Annyeong.” Yoeja itu keluar dari ruanganku diantar oleh Kyuhyun. Setelah itu Kyuhyun langsung menghampiriku yang masih terisak dan memelukku.

“Aku tahu kau bingung. Aku tahu kau sedih. Mianhae soal waktu itu. Aku khilaf. Tapi setidaknya, berilah aku kesempatan. Kita mulai lagi dari awal. Aku sudah seperti ini, apakah kau masih juga belum mengerti perasaanku?”

Donghae’s POV

Sudah pagi, namun Hye ri belum juga kembali ke apartemennya. Padahal aku sengaja menungguinya disini. Jadi saat dia pulang aku langsung tahu keadaannya.

Tapi sepertinya harapanku sia – sia saja. Sampai sekarang aku masih belum menemukan sosoknya disini. Apa jangan – jangan terjadi sesuatu hal dengan nya? Ponselnya juga sudah tidak bisa dihubungi lagi.

“Apa kau tidak apa – apa aku tinggal sendirian disini? Apa perlu memanggil Yunha untuk menemanimu?” Aku tiba – tiba dikagetkan oleh suara namja yang familiar diteingaku. Begitu aku menoleh, aku sudah mendapati Hye ri dengan perban dikepalanya dan dia sedang dipapah oleh Kyuhyun.

Aku langsung berlari menghampiri Hye ri dan memapahnya. “Jaggiya, gwenchanayo? Kenapa kepalamu di perban seperti itu?” Aku membantunya berjalan ke sofa. Dia sama sekali tidak memperhatikan jalan di depannya karena aku melihatnya hampir jatuh berkali – kali meskipun sudah di papah oleh dua orang.

“Kyuhyun~ah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Hye ri bisa jadi seperti ini?”

“Bisakah kalian membiarkanku sendiri disini?” Ucap Hye ri tiba – tiba sebelum Kyuhyun membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku.

“Jaggiya…..”

“Jebal. Tinggalkan aku sendiri di apartemenku.” Hye ri langsung pergi kekamarnya dan meninggalkan kami berdua disini. Kami pun dengan terpaksa pergi meninggalkan apartemen Hye ri. Namun sebelum aku meninggalkan tempat ini, aku menghubungi Yunha untuk menemani calon istriku. Aku rasa dia akan tenang kalau ada sahabatnya disampingnya.

Minho’s POV

Berkali – kali aku melihat ke arah ponselku dan berharap ada seseorang yang menghubungiku dan memberitahukan keadaan Hye ri. Tapi sampai detik ini, sama sekali belum ada kabar mengenai yoeja itu. Aku khawatir. Tentu saja. Aku takut kalau – kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan nya. Sudah tiga hari, apakah yoeja itu baik – baik saja?

“Yakk, Choi Minho. Kau mau makan tidak hah? Yunha sudah mengajakmu dari tadi.” Ucap Jonghyun hyung yang membuyarkan lamunanku.

“Ne?”

“Aiiiisssshhhh, bukannya kau mau makan bersama Yunha? Dia sudah memanggilmu berkali – kali tapi kau masih saja melamun.” Aku menoleh kearah Yunha dan dia sudah menatapku tajam penuh emosi. Kapan aku memutuskan untuk makan siang dengannya? Tapi karena aku sudah melihat tatapan tajamnya, mau tak mau aku berdiri dan berjalan kearahnya.

***

Jujur saja, aku sedang tidak nafsu makan hari ini. Fikiranku selalu saja tertuju pada Hye ri dan itu membuat nafsu makanku hilang. Sebenarnya kemana yoeja itu pergi? Apa dia tidak tahu kalau semuanya sedang menghawatirkannya?

“Yakk, Minho~ya! Choi Minho. Kau mendengarkan ceritaku kan?” Lagi – lagi lamunanku dibuyarkan oleh teriakan. Dan kali ini adalah teriakan Yunha.

“Ne?”

“Aiiiissshhhh, yakk. Sebenarnya kau mendengarku tidak hah? Aku daritadi bicara denganmu. Babo!” Teriaknya jengkel kepadaku.

“Aku mendengarkanmu kok.” Elakku.

“Keureom, apa yang aku bicarakan tadi?” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Jujur saja aku tidak fokus dengan apa yang dibicarakan olehnya. Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman dan itu sepertinya sukses membuatnya semakin naik darah.

Aku sudah mulai takut kalau – kalau dia akan berteriak. Tapi, bukannya berteriak dia hanya menghembuskan nafasnya pelan.

“Sepertinya aku memang sudah tidak bisa menggantikan posisinya.” Ucapnya pelan. Sangat pelan menurutku karena aku hanya mampu menangkap beberapa patah kata saja.

“Mworagoyo?” Tanyaku hati – hati. Aku ingin memastikan dan memperjelas apa yang baru saja ku dengar.

“Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Mian, aku harus pergi terlebih dahulu.” Yunha menghentikan makannya begitu saja dan langsung meninggalkannya yang sepertinya baru beberapa sendok dimakan. Aku menatap kepergiannya sampai dia menghilang dengan Mercedes Benz nya. Aku merasa kalau yang diucapkan Yunha tadi, berhubungan dengan Hye ri.

Hye ri’s POV

Sudah hampir 3 hariΒ  aku berdiam diri di dalam kamar. Enggan sekali rasanya melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar ini. Entah mengapa hanya dikamar inilah aku merasa aku bisa tenang. Meskipun pada kenyataannya, hatiku belum benar – benar tenang.

“Mau sampai kapan kau begitu terus nona cerewet?” Yunha sudah berdiri didepan pintu dengan posisi bersedekap.

Aku hanya memandangnya sekilas dan setelah itu kembali meneruskan aktifitas melamunku. Yunha melangkahkan kakinya untuk mendekat keranjangku dan duduk disampingku. Dia memandangku dengan prihatin. Mungkin karena melihat keadaanku.

Aku merasa aneh dipandangi seperti itu oleh Yunha. Meskipun aku sendiri tidak begitu yakin apa maksudnya memandangiku sambil bersedekap seperti itu.

“Wae geurae?” Tanyaku pada akhirnya karena aku risih dipandangi seperti itu.

“Makanlah. Aku membawakan sushi untukmu.” Setelah itu dia langsung meninggalkanku dan turun ke bawah. Aku mengikutinya dengan langkah gontai. Sudah seperti ini, apakah aku masih mempunyai nafsu makan?

Di ruang makan, kami berdua hanya diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Kami seperti hanyut pada fikiran masing – masing. Aku sebenarnya ingin menceritakan masalahku pada Yunha. Terutama tentang Minho. Tapi, aku bingung. Apakah aku harus menceritakannya atau tidak.

“Kenapa kau tidak menyentuh makananmu? Kau tak suka?”

“Mwo?”

Dia menghentikan makannya dan meletakkan sumpitnya dengan keras dimeja sampai menimbulkan suara yang membuatku kaget. Kenapa dengan anak ini?

“Kenapa kau mendiamkan Minho?” Tanyanya tanpa basa – basi. Minho? Apa Minho sudah menceritakan semuanya padanya? Apa Yunha marah padaku?

“Ehm… Yunha~ya, jeoggi. Kau jangan salah faham padaku. Mungkin saja maksud Minho bukan seperti itu.” Kataku sedikit gugup. Aku jadi bingung dan membuat kosa kataku sedikit berantakan.

“Apa maksudmu?”

“Ehm… Dia sepupuku, jadi aku tidak mungkin ada perasaan padanya. Kau tahu itu kan? Kau percaya padaku kan? Mungkin Minho berkata seperti itu karena dia…….” Aiiissshhh kenapa aku jadi tidak bisa berbicara lancar seperti ini?

“Jadi kau mendiamkannya karena itu?” Yunha menatapku tajam. Meskipun dia tidak berteriak tapi aku sudah bisa menebaknya kalau dia pasti sakit hati karena hal itu.

“Mianhae Yunha~ya, aku tidak tahu kalau…….”

Yunha membalikkan badannya dan berjalan keruang tengah. Mengambil tas nya dan berjalan kembali kearah pintu. Aku langsung berlari mengejarnya dan menahan tangannya untuk tidak meninggalkan apartemenku. Aku tidak mau bertengkar dengannya.

“Lepaskan tanganku. Dan satu hal lagi. Jangan acuhkan Minho. Dia sangat mengkhawatirkanmu.” Ucapnya singkat tanpa menoleh kearahku.

“Yunha~ya…..”

“Aku tahu kau tidak tuli Hye ri. Lepaskan tanganku sekarang juga.”

“Shireo! Aku ingin menjelaskan dulu semuanya padamu.” Aku tetap menahan tangannya sambil memohon – mohon. Tanpa sadar air mataku sudah mulai mengalir.

“Lepaskan!!” Yunha memberontak. Dia mengibaskan tangannya sangat keras sehingga membuatku terpental kebelakang dan menghantam dinding.

Aku menatap kepergian sahabatku. Demi Tuhan. Aku sendirian sekarang. Aku merasa kalau aku akan kehilangan orang – orang terdekatku.

Donghae’s POV

Pagi – pagi sekali aku sudah menjemputnya di apartemen. Hari ini, haraboeji meminta kami untuk melakukan peninjauan gedung yang akan digunakan untuk pernikahan kami kelak. Lagipula aku juga sudah merindukan yoejaku. Hampir satu minggu aku tidak melihatnya dan rasa rinduku sudah tidak bisa kututupi lagi sekarang.

Aku melihatnya turun dari tangga. Seperti biasa, dia mengenakan gaun selutut dengan rambut dibiarkan tergerai bergitu saja. Meskipun aku sudah berulang kali melihatnya seperti itu, entah kenapa aku selalu saja merasa kagum padanya.

“Jaggiya, kenapa aku merasa kau agak kurusan?” Hye ri memang terlihat lebih kurus daripada terakhir kali aku lihat.

“Apakah dietku berhasil?”

“Yakk, kenapa kau diet segala? Jangan diet lagi. Wajahmu sudah pucat begitu, kenapa harus susah – susah diet?” Omelku. Apa dia tidak sadar kalau dia diet, bisa – bisa badannya tinggal tulang saja.

“Hehehehehe, sudahlah tuan Lee. Kau mau berangkat sekarang atau tidak? Kajja.” Hye ri menngandeng lenganku dengan semangat dan menarikku menuju AUDI ku yang terparkir diluar. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, yang jelas aku merasa kalau Hye ri sedikit berbeda. Tidak biasanya sikapnya seperti ini, mengingat dia kabur begitu saja saat membicarakan pernikahan kami.

Selama melihat – lihat gedung dan membicarakan dekorasi yang akan digunakan untuk resepsi, Hye ri sangat semangat. Dia selalu tersenyum dan tak pernah sekalipun dia tidak antusias dengan situasi ini. Dia terlihat lebih bersemangat mengeluarkan ide – idenya dan membuat WO kelimpungan mencatat ide – ide tersebut.

“Jaggiya, kenapa kau hari ini terlihat lebih cerewet dari biasanya hah?” Aku memberikan sebotol orange juice untuknya dan mengambil duduk disampingnya.

“Waeyo? Apa kau lebih suka melihatku murung?”

“Anniyo. Tentu saja aku suka melihatmu ceria seperti ini Jaggi. Apakah itu berarti kau menyetujui pernikahan kita?” Tanyaku bersemangat.

Dia melirik kearahku sekilas dan menyunggingkan senyum penuh teka – tekinya. “Hanya ini yang bisa kulakukan saat ini bersamamu.”

“Ne?” Aku memang tidak begitu memperhatikannya saat dia bicara karena aku masih berkutat dengan ponselku.

“Anniyo. Sudahlah. Aku lapar. Aku ingin pergi ke cafe Yesung Oppa. Kajja.” Lagi – lagi dia menarik lenganku. Seharusnya aku senang melihat perubahan sikapnya ini karena itu berarti dia sudah bisa menerima kehadiranku. Tapi, kenapa aku malah merasakan hal yang lain? Aku merasa kalau aku akan kehilangan gadisku.

Hye ri’s POV

Aku menatap namja yang sedang duduk dihadapanku ini dengan seksama. Merekam setiap detil wajahnya diotakku dan menyimpannya sebaik mungkin. Hingga tanpa kusadari ada yang menetes dari mataku. Donghae yang menyadari hal itu langsung menghentikan aktivitas makannya dan buru – buru duduk disampingku.

“Jaggiya,…” Ucapnya dengan nada khawatir.

“Hehehehe, gwenchanayo. Sudah selesaikan makanmu. Aku hanya kelilipan saja.” Donghae membelai rambutku dan kubalas dengan senyum manisku. Aku tidak sadar kalau aku sudah jadi bahan tontonan orang sekarang. Tapi, sepertinya aku tidak peduli dengan itu semua. Aku sedang ingin menikmati semua ini.

“Yakk yakk, jangan umbar kemesraan kalian di Cafeku.” Tiba – tiba Yesung Oppa datang dan menghancurkan aktivitasku.

“Oppa, kau kemari?” Tanyaku basa – basi.

“Tentu saja. Ini kan Cafeku.” Ucapnya seraya membanggakan diri. Aiiiissshhh pasti penyakit narsisnya sudah mulai lagi.

“Aaaiiiiisssshhh. Simpan kenarsisanmu oppa. Kau sendiri Oppa? Duduklah disini Oppa.” Aku menawarkan tempat duduk yang kosong dimeja kami untuk Yesung Oppa.

“Aku bersama Wookkie dan Kyuhyun. Kami baru saja berlatih Vocal. Ahh, itu mereka. Yakk, kalian berdua kesini.” Aku menutup kedua telingaku karena teriakannya barusan. Aigoooo, apa semua lead vocal di Super Junior suka berteriak hah? Apa mereka tidak sadar kalau teriakan mereka juga bisa membuat orang tuli?

Tunggu sebentar, apakah Yesung Oppa tadi mengatakan Kyuhyun? Aku hendak bertanya lebih jelas lagi namun namja yang ingin ku tanyakan tersebut sudah mengambil posisi duduk disebelah kiriku.

“Bagaimana persiapan pernikahan kalian?” Tanya Wookkie pada kami berdua.

“Tidak ada masalah. Mungkin setelah ini kami akan ke butik untuk fitting gaun.” Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan jawaban dari Donghae. Tapi, tiba – tiba saja ada sesuatu yang memegang tangan kiriku. Aku melihat kearah tanganku dan sudah melihat tangan Kyuhyun disana.

Aku takut Donghae curiga dan mengetahui hal ini. Jadi, aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi, bukannya melepas tanganku dia malah semakin menggenggamnya. Aku melirik kearah Donghae sekilas, berharap kalau dia tidak melihat hal ini karena dia duduk disamping kananku. Astaga, Cho Kyuhyun, apa dia ingin semuanya tahu masalah ini?

“Jaggiya, kajja kita harus segera ke butik.” Donghae menarik tangan kananku dan mengajakku untuk segera meninggalkan cafe ini. Aku hendak berdiri tapi aku ingat kalau tangan kiriku masih berada di genggaman Kyuhyun. Aku meremas tangannya dengan harapan dia tahu maksudku kalau aku berharap dia melepaskan tanganku. Seolah mengerti apa maksudku, kyuhyun pun langsung melepaskannya.

“Mianhae, Kyuhyun~ah, jeongmal mianhae.” Ucapku dalam hati. Setelah berpamitan dengan Yesung oppa dan Wookkie kami berdua langsung pergi ke parkiran. Di tempat parkir kami berdua tidak sengaja bertemu dengan Minho dan Yunha. Minho terlihat sedikit kurus dan saat mata kami saling bertatapan aku benar – benar ingin menangis lagi. Tatapannya sayu dan saat aku melirik sekilas kearah Yunha, tatapannya juga masih tajam padaku. Sama seperti saat kami terakhir bertemu.

Donghae menyapa mereka dan aku hanya menundukan kepalaku tanpa berniat menyapa keduanya. Biar saja semuanya seperti ini. Mungkin ini adalah yang terbaik.

Kyuhyun’s POV

Sebenarnya berat melepas tangannya seperti itu. Karena aku tahu, kalau sekali saja aku melepaskannya, maka dia akan selamanya pergi dari diriku. Tapi apa boleh buat. Melihatnya memohon seperti itu, membuatku mau tidak mau harus melepaskannya. Walaupun hanya melepaskan genggamannya, itu benar – benar membuatku tidak rela.

“Kyunnie~ya, kau tak memesan makanan?” Wookkie membuyarkan lamunanku.

“Anniyo. Kalian makan saja. Aku ada urusan sebentar.” Aku berdiri dan meninggalkan Cafe Yesung Hyung. Nafsu makanku lenyap begitu saja. Suasana hatikupun ikut kacau. Aku tidak tahu apakah yang akan aku lakukan ini lebih baik atau tidak. Yang jelas aku hanya mengikuti instingku untuk menjadi stalker mereka berdua. Kau lihat Vanessa. Aku bahkan rela menjadi seorang stalker hanya untuk ingin tahu apa yang kau lakukan. Apakah aku masih belum juga bisa menarik perhatianmu kembali eh?

***

Mereka berdua sudah membuat hampir seluruh sarafku menegang sekarang. Bercanda, tertawa, berpegangan tangan, memeluk, apa mereka mau membuatku meledak saat ini juga hah? Mereka sengaja membuatku cemburu?

Aku mengepalkan kedua tanganku. Kalau saja aku tidak bisa mengendalikan emosiku, aku yakin sekali kalau pintu kaca butik ini akan hancur berantakan ditanganku hanya dalam hitungan detik. Aku ingin lihat, sampai sejauh mana mereka akan berkelakuan seperti itu?

Aku melihat bayanganku kembali ke cermin. Sepertinya penyamaranku sudah sempurna. Aku yakin kalau mereka tidak akan menyadari kalau aku seorang Cho Kyuhyun. Ciiiihhh, seperti inikah cara para stalker – stalker itu mengikuti idola mereka? Aku benar – benar salut dengan mereka. Pekerjaan mereka benar – benar penuh resiko.

Aku memasuki butik dan berjalan mendekat kearah mereka. Berpura – pura menjadi pelanggan dengan memilih-milih jas dan sebentar – sebentar melirik kearah mereka berdua. Donghae Hyung sudah memakai setelan jaz nya dan sedang menunggu Vanessa keluar dari ruang ganti. Begitu melihatnya keluar, jujur saja aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Cantik, anggun, sempurna. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kesempurnaan yoeja itu saat ini. Meskipun belum ada bahan – bahan kimia yang menempel dimukanya. Aiiiissshhhh, kenapa harus Donghae Hyung yang sekarang menggandengnya? Seharusnya aku yang berada didekatnya sekarang. Seharusnya aku yang memakai jas itu dan seharusnya aku yang menjadi mempelai pria nya. Bukan Donghae Hyung.

Rasa cemburu dan sakit hatiku sudah tidak bisa lagi kuredam. Aku langsung keluar dan meninggalkan butik ini. Rasanya benar – benar seperti ada yang membakar tubuhku sehingga suhu darahku naik. Aaiiiiisssshhhhh, sampai kapan kau akan terus membuatku seperti ini Vanessa Choi?

Donghae’s POV

Aku sama sekali tidak mampu mengedipkan mataku walaupun untuk sepersekian detik karena melihatnya. Aku takut kalau aku berkedip itu akan mengurangi kecantikannya saat ini. Astaga, apakah ada yoeja yang melebihi kecantikan tunanganku saat ini? Aku rasa tidak ada. Aku yakin kalau dia satu – satunya yoeja yang bersinar didunia ini. Atau mungkin karena mataku sudah tidak bisa lagi melihat yoeja lain selain dia. Dia benar – benar sempurna. Anni. Sempurna saja tidak cukup untuk mendiskripsikannya.

“Yeoppoda.” Ucapku sambil tak henti – hentinya menyunggingkan senyumku. Dia terlihat malu karena muncul semburat merah dikedua pipinya. Aigoooo, saat seperti itu dia semakin terlihat manis.

“Yakk, jangan menatapku seperti itu. Kau mau kubunuh hah?” Aku berjalan mendekat kearahnya dan menggandeng tangan kanannya.

“Bagaimana? Apa kau sudah menentukan pilihanmu jaggi? Apa kau mau membeli gaun – gaun yang sudah kau coba tadi? Semua yang kau pakai terlihat cocok ditubuhmu.”

“Aiiissshhhh, yakk Fishy. Apa kau fikir aku model? Mana mungkin aku mengenakan semua itu? Aku pilih yang ini saja.”

“Kalian berdua sangat serasi. Cantik dan tampan. Apakah kalian ingin foto dengan memakai gaun tersebut? Kami akan dengan senang hati memfoto kalian berdua.” Pelayan toko menawarkan foto pada kami. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik karena toh minggu depan kita akan melakukan Pre wedding. Tapi melihat Hye ri yang sangat bersemangat, aku pun menuruti permintaannya. Jarang sekali melihatnya begitu antusias seperti ini.

***

“Fishy, jebal!kita foto beberapa kali lagi.” Rengeknya padaku. Ini mungkin sudah yang ke 10 kalinya kami berpose di depan kamera dengan pakaian ini. Aku jadi heran, bukannya dia benci dengan kamera, tapi kenapa hari ini dia semangat sekali berfoto?

“Jaggiya, kenapa kau jadi suka berpose di depan kamera?” Tanyaku heran. Tapi melihatnya yang sepertinya sedikit lebih manja itu, aku pun terpaksa melakukannya. Apa dia sudah tertular virus manjaku?

“Jebal jebal jebal Fishy. Ehm….. 3 kali lagi. Setelah itu kita pulang. Bagaimana?”

“Arra arra. Setelah itu kita pulang.” Dia terlihat senang mendengar jawabanku. Aku hanya menghembuskan nafasku pelan melihat tingkahnya hari ini. Yoeja ini benar – benar berubah 180 derajat dari sebelumnya.

Setelah selesai berkutat dengan kamera, aku mengantarkannya kembali ke apartemen. Aku sebenarnya ingin langsung kembali ke dorm dan beristirahat, tapi entah kenapa hatiku mengatakan kalau aku harus diapartemennya. Aku merasa tidak rela meninggalkan apartemen ini dan berjauhan darinya.

“Jaggiya, apa kau baru membeli koper? Kenapa ada koper di situ?” Aku menunjuk koper berwarna biru muda yang tergeletak di pojok ruang tengah.

“Oh, n…ne. Aku baru membelinya dua hari yang lalu.” Sebenarnya aku merasa aneh dengan koper itu. Tapi, aku tahu sifat Hye ri yang Blueholic itu jadi aku menepis fikiran burukku dari otakku. Yoeja ini sangat tergila – gila dengan warna biru. Apalagi biru muda dan biru laut. Walaupun barang itu tidak begitu penting, asalkan berwarna biru, dia pasti akan membelinya. Jadi aky tidak heran kalau ada koper itu disana.

“Keuraeyo? Jaggiya, mianhae aku harus kembali ke dorm. Sepertinya Eunhyuk sedang butuh bantuan.”

“Ah, Ne. Ehm…… Tutup matamu sebentar.”

“Waeyo?” Ucapku bingung.

“Sudah ikuti saja.” Aku memejamkan mataku menuruti perkataannya. Dan aku kaget dengan apa yang barusaja dilakukan tunanganku. Hye ri mencium bibirku sekilas dan setelah itu meninggalkanku begitu saja dalam keadaan terpaku. Astaga, apakah yoeja dihadapanku ini benar – benar Choi Hye ri? Kenapa sifatnya kontras sekali?

“Jaggiya,,,,” panggilku dengan suara yang sedikit tertahan. Dia berbalik dan menatap kearahku. Lagi – lagi dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.

“Gomawoyo dengan semua yang telah kau berikan padaku. Aku senang karena tuhan memberikan kesempatan ini padaku. Mengenalmu dan………”

“Jaggiya, kenapa kau tiba – tiba berbicara seperti itu?” Potongku.

“Anniyo. Sudahlah, cepat pulang. Aku tidak mau couple mu itu menyalahkanku karena menyandramu disini.” Dia mendorong tubuhku pelan kearah pintu. Aku masih belum begitu fokus karena aku masih memikirkan kata – katanya barusan. Apa itu boleh dikategorikan kalau dia sudah jatuh cinta padaku?

Minho’s POV

“Minho~ya, neo eodie? Kau kan masih belum sehat.” Yunha menarik tanganku untuk kembali ke ranjangku.

“Yakk, Minho~ya. Turuti kata – kata yoeja mu ini. Jangan bandel seperti itu. Sudah tahu kalau kau sedang tidak sehat, kenapa tetap saja mau keluar dorm?” Onew Hyung pun ikut memarahiku.

Aku menyerah dan kembali ke ranjangku. Yoeja? Ah aku lupa kalau aku baru saja jadian dengan Yunha. Aku menatap Yunha dengan pandangan menerawang. Apakah keputusanku ini benar? Apakah aku mencintai yoeja di depanku ini? Apakah dia bisa menggantikan posisi Hye ri dihatiku?

“Wae geurae? Ada yang salah denganku?” Tukasnya.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku benar – benar jahat. Tidak seharusnya aku mengambil langkah ini. Tidak seharusnya aku menjadi kekasih sahabatku sendiri. Kalau Yunha tahu yang sebenarnya bukankah itu lebih menyakitkan hatinya.

“Yunha~ya, aku……..”

“Tidak perlu kau ucapkan. Aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan padaku. Aku tidak menyalahkanmu. Yang penting sekarang adalah kesehatanmu. Istirahatlah. Aku pulang dulu.” Yunha membungkukkan badannya dan berpamitan pada kami semua. Aku ingin mengejarnya dan menjelaskan sesuatu padanya, tapi aku tidak tahu kenapa, kakiku seakan akan kaku. Jeongmal mianhae Yunha~ya.

“Hyung, kenapa dengan Yunha? Kenapa dia menangis hyung?” Taemin masuk ke kamarku dengan membawa nampan yang berisi makanan.

“Menangis?” Tanyaku

“Ne. Kau tidak bertengkar dengannya kan Hyung?”

Apakah aku membuat seorang gadis menangis lagi? Apakah sahabatku itu juga akan meninggalkanku sama seperti sepupuku? Aiiisssshhhh babo. Kenapa aku jadi sebodoh ini?

Author’s POV

Hye ri duduk disofa, memandangi kopernya yang tergeletak rapi dipojok ruangan. Memikirkan segalanya tentang keputusan yang telah dibuatnya. Setelah itu dia merogoh tasnya, mengambil dan memandangi foto – foto mereka berdua di butik tadi.Β  Saat memandangi foto – foto tersebut tanpa sadar Hye ri menangis, dan membuat foto tersebut basah.

“Aiiissshhhh, kenapa aku jadi cengeng seperti ini sih?” Hye ri mengusap air matanya dan memasukkan foto – foto itu kembali ke dalam tas.Β  Dia berjalan menuju tangga, tapi belum sempat dia mencapai tangga dia dikagetkan oleh suara pintu yang tiba – tiba terbuka. Hye ri membalikkan badan dan melihat Kyuhyun disana. Dalam keadaan rambut acak – acakan dan bau alkohol menyebar ke mana – mana.

“Yakk, neo! Apa yang kau lakukan disini hah?” Hye ri setengah berlari kearah Kyuhyun dan menangkap tubuhnya yang hampir jatuh dilantai. Hye ri membopong tubuh namja itu di sofa dan mendudukkannya disana.

Hye ri mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi member lain, tapi ponselnya direbut secara tiba – tiba oleh Kyuhyun. Kyuhyun tidak mau Hye ri memanggil teman – temannya yang lain.

“Yakk, Kenapa kau sampai mabuk seperti ini hah?Apa kau tak sadar kalau kau itu sudah kurus. Kenapa malah mabuk – mabuk an seperti itu?”

“………….”

“Aiiissshhh jinjja! Chakkaman, aku buatkan air madu untukmu.”

Hye ri berdiri dan berjalan ke dapur. Baru beberapa langkah, Kyuhyun menahan tangan Hye ri dan membuat gadis itu dia diposisinya.

“Waeyo?” Sungut Hye ri.

“Duduklah.” Kyuhyun menyuruh Hye ri duduk disebelahnya. “Jebal. Aku janji tidak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya ingin kau disampingku.” Kata Kyuhyun memelas. Akhirnya walaupun dengan perasaan ragu – ragu Hye ri menuruti keinginan Kyuhyun.

Tiba – tiba Kyuhyun menyandarkan kepalanya ke pundak Hye ri dan kontan saja Hye ri terkejut dengan perlakuan Kyuhyun yang tiba – tiba tersebut.

“Yakk yakk. Kau….”

“Aku gak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Kau selalu membuatku seperti ini. Kenapa kau selalu menyakiti ku? Kenapa kau selalu berputar – putar di otakku?”

“Mwo?”

“Jujur saja aku sudah tak sanggup melewati hari – hariku. Itu karena kau selalu mengusik fikiranku. Otakku dan hatiku selalu menolak kenyataan bahwa kau sudah bersama donghae Hyung dan itu semakin membuatku sakit hati. Jebal Vannessa,jebal. Jangan siksa aku seperti ini. Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan agar hatiku tidak tersiksa seperti ini. Aku benar – benar sudah tidak sanggup seperti ini terus.” Kyuhyun mabuk sehingga bicaranya melantur kemana – mana.

“Kyuhyun~ah, kau mabuk. Lepaskan tanganku dan berikan ponselku yang sedang kau pegang itu.” Ucap Hye ri dengan pelan sambil menahan tangisnya.

“Aku tidak sanggup melepasmu Vannessa. Aku takut melepasmu karena aku yakin, sekali saja aku melepasmu dan membiarkanmu pergi dariku,kau tidak akan pernah kembali padaku. Kau pasti akan selamanya meninggalkanku.”

Hye ri yang merasa prihatin dengan keadaan Kyuhyun hanya bisa memandangnya iba. Hye ri sendiri bingung apa yang harus dia lakukan. Dia juga tersiksa karena perasaannya sendiri yang terombang – ambing. Kalau saja dia bisa mempertahankannya untuk tetap menyukai Kyuhyun, hasilnya pasti tidak akan seperti ini. Kini sudah ada Donghae dihatinya dan dia juga tidak bisa bersama dengan Donghae karena Hye ri sadar kalau dia sudah tidak cocok mendapatkan Donghae.

“Mianhae Kyuhyun~ah, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu kalau karena aku kau bisa sampai seperti ini. Aku janji aku akan mengembalikan kehidupan kalian seperti sedia kala. Tanpa harus merasa tersakiti karena adanya aku. Jeongmal mianhae.” Hye ri berkata pelan pada Kyuhyun. Kyuhyun sudah tertidur dipangkuan Hye ri sekarang, jadi sudah dipastikan kalau Kyuhyun tidak mendengar apa yang diucapkan Hye ri.

Mereka berdua tidak sadar kalau ponsel yang sedang dipegang oleh Kyuhyun masih tersambung dengan ponsel salah satu member yang secara otomatis mendengar semua pembicaraan mereka berdua.

Hye ri’s POV

Aku tdak tahu kalau aku sampai membawa dampak seperti itu untuk Kyuhyun dan Donghae. Bahkan sepupuku pun juga merasa tersakiti karena diriku. Sepertinya kehadiranku disini hanya membawa dampak buruk bagi orang – orang yang dekat denganku. Bagi orang – orang yang aku sayangi.

Aku memandang visa dan paspor di tanganku. Aku memang sudah berencana untuk meninggalkan Seoul. Meninggalkan semua orang – orang yang ku sayangi dan meninggalkan hatiku.

Berat sebenarnya mengambil keputusan ini. Tapi akan lebih berat lagi kalau aku tetap disini dan meliihat mereka semua hancur karena ku.

Aku sengaja mengambil penerbangan ke Indonesia paling pagi. Aku mengambil cuti kuliah dan aku ingin menetap untuk sementara di Bali. Setidaknya kalaupun aku akan kembali ke Seoul aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka semua. Aku ingin memulai hidupku dari awal. Jadi aku tidak memberitahukan kepergianku ini pada siapapun. Tanpa terkecuali. Appa dan Eomma pun tidak mengetahui kepergianku.

Aku melihat boarding pass ku. “Hmmmm 15 menit lagi” aku melihat sekeliling kemudian mengambi koperku untuk check in dan aku akan meninggalkan negeri tercintaku. Yeorobeun mianhaeyo! Aku berharap, tanpa kehadiranku disini, semua bisa lebih baik.

TBC

Advertisements

About eunhaekyu

i'm an ELF really really really really Lee Donghae and Lee Hyuk Jae joahae...... i think both of them are perfect....

13 responses »

  1. love-yekyu says:

    T_T
    Waah part ini bnar2 sedih… Smua patah hati..
    Aku jd ikutan sedih…

    Oh my God.. Ottokhae???

    • eunhaekyu says:

      mau nya buru – buru aku ending in…
      eh pas di ketik ternyata gak ending – ending
      haduuuuhhhh
      ckckckckcckckckcck

      pas galau niiiyy, jadinya semuanya aku bikin patah hati…
      hahahahahahahahahah
      #evil mode : ON

  2. haekha says:

    yahh…..aku ketinggalan 1 hari 😦

    tmbh keren eon,,,tmbh penasaran juga…. πŸ˜€

    lannjut ya eon πŸ™‚
    secepat nya,,,,hahahahaha

    • eunhaekyu says:

      No Problem πŸ˜€
      aku juga publishnya agak molor kok
      heheheheheehe

      hancur yaa part nya yang ini??
      mian yaa
      pas ini sebenarnya pengen segera bikin ending, tapi ternyata gak ending-ending pas diketik
      haduuuhhh jadinya bingung juga deh….

  3. haekha says:

    g’ kok eon g’ hancur….aku suka πŸ˜€

    jangan cepat2 ending eon hahahaha

    tp ni ff happy ending kan eon??

    hye ri nya sm hae kan eon???

    penasaran πŸ˜€

    • eunhaekyu says:

      kasih tahu gak yaaa?????
      hahahahahha
      #kidding

      sebenarnya masih ada komplikasi antara sad ending atau happy ending
      heheheeheh
      #slapped
      tapi kayaknya banyak yang gak suka sad ending

  4. haekha says:

    betul tu eon emng bnyk yg g’ suka sad ending…
    jd happy ending aja ya..ya…ya…. hehehehhe πŸ˜€

    sama hae ya…ya…ya…

    oya eon…itu si kyuhyun ngapain si hyeri sih??smpai hyeri galu kyk gtu??*sok polos* hahaha

    • eunhaekyu says:

      jangan – jangan aku bisa dibakar reader niii kalau bikin nii endingnya menyedihkan…
      hahahahahahahah
      #lagi kerasukan setannya si magnae

      hayoo hayooo tunjukin KTP dulu
      pemeriksaan…. udah 17 thun atau belum…
      #jadi tatib

      Kyuhyun cuman main petak umpet ajja kok sama sii Hye ri
      #dengan muka innocent*

      • haekha says:

        betul…betul… tu eon πŸ˜€

        hahahahaha si eonni…
        aku udah 17 lwat 3 bulan eon πŸ™‚

        ha??main petak umpet??
        kok hyeri galau gitu hbis main petak umpet nya???*heheheheehe*

      • eunhaekyu says:

        –__–”
        waaahhhh, aku udah mencemari anak yang baru saja menginjak usia 17
        ckckckckckckckckck

        ituuu, petak umpetnya yang agak berbeda dari petak umpet biasanya…
        jadi galau nya gak abiz-abiz
        heheheheheheheheheh #masih 17 lewat 3 bulan, jadi masih dihitung kecil…

  5. cuzhuma says:

    critanx makin seru..trus sapa yg dnger kata2 kyuhyun ma hyeri??bkan donghae kan??makin seru aja konflik..hehehehe..
    Dtunggu lanjutanx..

    • eunhaekyu says:

      yang jelas salah satu member suju yang gak mungkin bisa ketebak siapa orangnya
      hohohohohohohohoho
      #seneng banget bikin penasaran #PLAKKK

      next part lagi diketik kok, maybe 2-3 hri kedepan deh….

  6. haekha says:

    yahhh eonni 😦
    17 lwt 3 bln kok mash dibilang kecil 😦

    apa??? 2-3 hari lgi???*ngintip kmen di atas πŸ˜€ jingkrak2* hahahaha

    ditungguin ni eon πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s