Pink_Japanese_Anemones copy

Mokpo, 1997

Musim semi berakhir, digantikan oleh musim panas yang semakin hangat. Semua kalangan bersorak menyambut udara yang hangat dan hawa liburan yang menyenangkan itu. Bunga – bunga yang ada di taman masih mekar dengan indahnya. Membuat orang – orang senang menghabiskan waktu liburnya disana. Sepertinya semua menyukai musim panas.

Seperti biasa, pohon Oak di dekat taman kanak – kanak pelangi selalu ramai oleh gerombolan anak kecil yang memilih untuk bermain disana. Selain teduh, tempat tersebut juga bisa dibilang dekat dengan rumah mereka. Jadi, para orang tua bisa tenang membiarkan anak – anak nya bermain disana.

“Hyun Hee~ya, siapa pasanganmu hari ini? Lee Donghae lagi?” Tanya bocah laki – laki berusia kurang lebih 13 tahun. Lima tahun lebih tua darinya.

“Ne, Donghae oppa akan selalu menjadi pasanganku. Ya kan Oppa?” Kini gadis cilik bernama Hyun Hee tersebut menoleh ke arah Donghae, yang masih sibuk dengan tarian – tarian dance nya.

“Oppa, kau akan selalu menjadi pasanganku kan? Se – la – ma – nya?” Tanya gadis itu lagi. Lebih keras karena yang ia ajak bicara tidak menggubrisnya sama sekali.

“Ne Hyun Hee~ya.” Jawab bocah itu asal. Bibir Hyun Hee terangkat, membentuk sebuah senyuman. Itu tandanya ia senang mendengar jawaban bocah tadi.

Mereka mulai bermain. Permainan yang sama yang mereka mainkan seperti hari – hari sebelumnya. Mereka ber enam, 3 bocah laki – laki dan 3 bocah perempuan. Sangat pas untuk bermain pengantin – pengantinan.

“Donghae~ya, cepat pulang. Kakek sudah datang.” Teriak Ibu Donghae. Donghae tertawa riang karena kakek yang ia tunggu – tunggu akhirnya pulang.

Dia langsung berlari, meninggalkan teman – temannya. Hyun Hee melihat punggung Donghae kecil yang berlalu meninggalkannya dengan tatapan sedih. Ibunya memanggil, tepat saat Donghae kecil akan memasangkan cincin mainan dari rumput ilalang ke jari manis Hyun Hee.

Akhirnya semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing. Mungkin mereka sudah capek bermain. Lagipula ini sudah waktunya tidur siang. Kecuali Hyun Hee. Dia memilih berjalan menuju kediaman keluarga Lee dan mengintip dari balik jendela. Ia Tidak berani masuk karena terlalu banyak orang disana. Menurutnya itu juga tidak sopan karena mengganggu acara keluarga lain.

Bola matanya mulai berputar, mencari sosok Donghae di antara kerumunan orang – orang. “Ah, dia disana.” Serunya pelan. Tanpa sadar senyumnya mulai mengembang.

Kini matanya tertuju pada sosok Donghae kecil yang berdiri di dekat kakeknya. Di sebelahnya ada juga kakek – kakek yang sedang menggandeng gadis cilik seumurannya. Hyun Hee menangkap tatapan mata Donghae yang tertuju pada gadis berambut panjang di hadapannya. Senyumnya mulai menghilang, digantikan oleh raut muka kesedihan. Sepertinya ia tidak rela melihat Donghae menatap bocah itu dengan tatapan seperti itu.

***

Donghae menatap gadis kecil dihadapannya tanpa berkedip. Gadis cilik dengan memakai baju berenda motif bunga – bunga itu membuat Donghae tak bisa untuk terus mengabaikannya. Matanya selalu saja tertuju pada gadis cilik itu, membuat gadis cilik di depannya malu sekaligus takut karena tatapan Donghae yang terlalu intens tersebut.

“Donghae~ya, ajak Hye ri bermain bersama. Dia akan menginap disini untuk 3 Minggu, jadi kau harus selalu menemani dia. Arrachi?” Perintah sang kakek. Donghae mengangguk pasti. Dia menarik lengan Hye ri pelan dan mengajaknya ke kamar. Ia menunjukan kamarnya dan seluruh mainanannya pada gadis itu.

“Aiiissshhh, aku hanya punya mainan cowok.” Ujarnya kesal. Ia menatap Hye ri dengan rasa bersalah karena tidak bisa meminjamkan satu mainan pun padanya. Hye ri tersenyum lau mengambil tas ransel mungil yang ia kenakan dan mengeluarkan satu boneka ikan dari dalam tas mungilnya itu.

“Gwencana. Aku sudah membawa beberapa mainan dari rumah.” Ucapnya dengan masih tersenyum. Donghae pun ikut tersenyum karena melihat senyum yang dipamerkan oleh Hye ri.

“Ah, kita belum berkenalan kan? Lee Donghae imnida.” Donghae membungkukkan setengah badannya.

Hye ri pun ikut membungkukkan badannya. “Choi Hye ri imnida.” Setelah itu kembali tersenyum dengan semburat merah di pipinya. Malu karena lagi – lagi Donghae menatapnya.

***

Hari ini semua orang sedang tidak ada di rumah. Kedua orang tua Donghae sibuk di luar kota, sementara kakek Donghae dan kakek Hye ri ada reuni bersama teman lama di Busan. Hanya ada Donghae, Donghwa dan Hye ri di rumah.

Donghwa lebih memilih untuk pergi bersama teman – temannya. Meninggalkan Donghae dan Hye ri berdua saja diumah tersebut.

“Hye ri~ya, bagaimana kalau aku mengenalkanmu pada teman – temanku? Eotte? Jadi kita bermain diluar hari ini.” Tanya Donghae. Dua minggu ini mereka memang hanya bermain di rumah. Kalau tidak, mereka pergi keluar bersama yang lain untuk pergi ke taman hiburan ataupun keluar kota. Donghae juga sepertinya mulai merindukan teman – temannya.

Hye ri terlihat berfikir. Dia menatap ke atas sambil mengetuk – ngetuk kepalanya pelan dengan jari kanannya yang mungil. Donghae tersenyum geli melihat tingkah laku gadis didepannya. Lucu, manis, dan menggemaskan.

“Ehm… Aku mau ke tempat Ahjumma di seberang. Ahjumma bilang ingin mentraktir aku es krim kalau aku bermain ke kedainya lagi.”

“Ah,geuraeyo?” Ucap Donghae sedih dan membuat Hye ri merasa bersalah karena menolak ajakan Donghae barusan. Hye ri mulai berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Donghae.

“Ehmm begini saja. Kau pergi duluan kesana sementara aku ketempat Ahjumma terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusulmu. Aku juga akan membawakanmu es krim. Eotte?”

“Jinjjayo?” Tanya Donghae tak yakin.

Hye ri mengangguk yakin, membuat Donghae jadi tak terkendali. Donghae tertawa riang. Dia berlari kesana kemari saking senangnya, membuat Hye ri mau tidak mau ikut tertawa melihat polahnya.

***

Hyun Hee tersenyum ketika melihat sosok yang ia rindukan sedang berlari ke arah mereka. Dua minggu ini terasa membosankan, membuatnya sama sekali tidak bersemangat bermain bersama yang lain. Tapi meskipun begitu dia masih sering datang di bawah pohon Oak ini, berharap suatu hari Donghae akan keluar rumah dan bermain lagi bersamanya. Dan hari ini, sepertinya penantiannya tidak sia – sia.

“Oppa, kau datang?” Teriak Hyun Hee riang. Dia meninggalkan boneka barbie nya dan berlari ke arah Donghae.

“Aku rindu kalian semua.” Teriak Donghae tak kalah kerasnya. Teman – temannya pun ikut senang melihat Donghae datang.

“Yakk, kau sombong sekali sekarang. Kau tidak mau bermain bersama kami lagi, eo?” Tanya bocah laki – laki yang sedang memegang pistol – pistol an dari kayu ditangannya.

“Aniyo. Mana mungkin aku tidak mau bermain bersama kalian lagi. Aku hanya sedang……….. Ah, lihat, lihat. Aku punya gerakan dance baru lagi.” Tanpa persetujuan dari yang lain Donghae mulai menggerak – gerakkan kaki dan tubuhnya, mengikuti ritme yang ia ciptakan sendiri.

“Aiiissshhh, dance lagi. Aku bosan melihatmu terus menerus menari seperti itu.” Ungkap salah seorang temannya. Semuanya mulai bubar, kembali pada mainannya masing – masing. Hanya Hyun Hee yang masih betah disana, melihat Donghae menari dan memperhatikannya dengan seksama.

“Woaaaa, bagus sekali Oppa. Kau terlihat lebih tampan.” Teriak Hyun Hee kagum. Matanya seolah tidak berkedip, Hyun Hee kecil sedang terpesona pada Donghae kecil.

Tempo gerakannya semakin cepat. Donghae semakin lincah bergerak, membuat Hyun Hee semakin bersorak. Namun tiba – tiba saja Donghae menghentikan gerakannya dan terduduk di tanah. Kakinya terkilir, dan sepertinya lututnya berdarah akibat bergesekan dengan tanah dan kerikil yang kasar tersebut.

Hyun Hee panik. Ia bingung melihat Donghae yang mulai menangis sambil memegangi lututnya yang berdarah.

“Oppa gwenchana. Tunggu sebentar. Aku ambilkan perban dan obat merah di rumah.” Kata Hyun Hee. Ia berlari menuju rumahnya yang juga tak jauh dari rumah Donghae dan tempat nya bermain, meninggalkan Donghae yang menangis kesakitan.

“Ini untukmu.”

Donghae mendongak dan melihat Hye ri disana. Ia menyodorkan es krim strawberry kearah Donghae. Donghae menerima es krim pemberian tersebut dan mengucapkan terima kasih pada Hye ri.

“Gomawoo Hye ri~ya.” Ucapnya, masih terisak.

Hye ri tersenyum kemudian membantu Donghae berdiri. Padahal badannya lebih kecil dari Donghae tapi dia masih nekat ingin membantunya berdiri.

“Kajja aku antar kau kedalam rumah. Luka di kakimu harus segera diobati.” Hye ri mulai memapah Donghae untuk masuk ke dalam.

Hyun Hee melihatnya dan tiba – tiba saja ia menjadi sangat sedih dan tidak suka. Ia membuang perban dan obat merah yang ada di tangannya begitu saja dan berlari ke rumah. Air matanya pun tiba – tiba saja jatuh. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, yang jelas ia tidak suka melihat gadis itu begitu perhatian pada Donghae nya. Ya, dia menganggap bocah itu adalah Donghaenya.

***

Hye ri berjalan dengan sangat hati – hati sambil membawa es krim strawberry di tangannya. Sebenarnya ia masih ingin tinggal di kedai es krim di seberang jalan lebih lama, tapi ia ingat bahwa ia janji akan menyusul ke tempat Donghae bermain.

Kaki mungilnya tiba – tiba saja terhenti. Tatapannya terfokus pada sosok yang sedang menari – nari dengan tempo yang cukup cepat. Ia sedang memperhatikan Donghae yang sedang unjuk kebolehan dengan seksama. Untuk pertama kalinya, ia terpesona pada seorang Lee Donghae.

Hye ri tersenyum, tetap berdiri di posisinya yang tak begitu jauh dari Donghae. Tanpa sadar ia menjadi begitu tertarik pada bocah yang selama dua minggu ini selalu menemaninya.

“Kyeopta.” Ucapnya pelan.

Saat Hye ri sedang menikmati pertunjukan tersebut, tiba – tiba saja ia melihat Donghae tersimpuh di tanah – dan menangis. Hye ri mulai kembali melangkahkan kakinya dan berjalan secepat mungkin untuk menolong Lee Donghae. Lee Donghae saja sampai menangis, pasti itu sakit sekali, fikirnya.

Hye ri sudah berdiri di dekat Donghae. Tanpa disadari oleh Donghae tentunya karena ia masih sibuk dengan luka di lututnya. Hye ri bingung harus berbuat apa. Ia tidak mungkin meminta bantuan pada orang rumah karena hanya ada mereka berdua disana.

“Ini untukmu.” Ujarnya sambil menyodorkan Es krim ke arah Lee Donghae. Hanya itu yang terlintas di otak Hye ri yang berusia 7 tahun.

“Gomawo Hye ri~ya.” Jawab Lee Donghae.

Hye ri mengabaikan tubuhnya yang begitu kecil dan membantu Donghae untuk berjalan ke dalam rumah.

“Kajja aku antar kau ke dalam rumah. Luka di kakimu harus segera di obati.” Dengan perlahan, Hye ri mulai memapah Donghae untuk berjalan ke dalam rumah. Ia mengambil sebuah kotak P3K dan mulai mengobati luka Donghae.

“Gomawo Hye ri~ya, jeongmal gomawo.” Ucap Donghae lagi. Ia sangat berterima kasih karena Hye ri sudah mau membantunya dan mengobati lukanya.

“Cheonmaneyo. Tarianmu tadi bagus sekali. Aku suka melihatmu menari seperti itu.” Jawab Hye ri.

Donghae membelalak, tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. “Jinjjayo? Kau suka melihatku dance seperti tadi?” Donghae tersenyum sendiri. Ada perasaan senang saat Hye ri mengatakan padanya bahwa dia menyukainya saat dance seperti tadi.

“Mullonimnida. Aku suka sekali. Kau terlihat berbeda saat sedang menari seperti tadi.” Hye ri mulai membereskan kembali kotak P3Knya dan beranjak meninggalkan Donghae. Tapi, tiba – tiba saja Donghae menarik tangan Hye ri dan menahannya untuk tetap diposisinya.

“Aku berjanji akan terus menari untukmu. Tapi kau harus memastikan bahwa kau hanya akan melihat kearahku.” Hye ri mengerjapkan kedua matanya. Di usia nya yang masih segitu dia tidak begitu faham dengan apa pun yang baru saja diucapkan Donghae kecil. Akhirnya Hye ri hanya membalasnya dengan senyuman dan setelah itu meninggalkan Donghae di sofa.

***

“Kau menyukainya?” Kakek Donghae mengambil duduk di dekat Donghae dan mendekati cucu nya yang sedang murung. Ya, sudah seharian ini Donghae terlihat murung. Sejak kepulangan Hye ri dan kakeknya, Donghae menjadi tidak bersemangat seperti biasanya.

Donghae menoleh kearah kakeknya, menghembuskan nafasnya perlahan kemudian kembali berpangku tangan dan termenung. Kakek Donghae terkekeh pelan meihat kelakuan cucunya tersebut.

“Kau menyukainya.” Terka kakek Donghae. Dia menepuk pundak cucunya pelan, kemudian mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya dipangkuannya.

“Kau ingin bisa bersamanya kan?” Tanya sang kakek lagi. Donghae menjawabnya dengan anggukan pelan, tanpa menoleh ke arah kakeknya.

“Kakek bisa membantumu kalau kau mau.” Donghae kembali menatap kearah kakeknya dengan kedua matanya yang berbinar – binar.

“Jeongmallyo? Bagaimana caranya kek?” Tanya Donghae dengan penuh semangat.

“Kakek sudah mengaturnya. Jadi kau tenang saja. Bersabarlah sebentar. Saat usia mu tepat, kau akan bisa bersamanya.”

Donghae tersenyum senang. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat ia bertemu lagi dengan gadis itu. Sang kakek pun ikut tersenyum gembira melihat cucunya kembali bersemangat seperti sedia kala. Ternyata, rencana kakek Hye ri dan kakek Donghae tidak mengalami masalah sedikitpun. Ternyata Donghae sudah menyukainya tanpa harus ada paksaan dari kakeknya untuk menerima perjodohan mereka berdua.

***

“Hyun Hee~ya, kau akan pergi meninggalkan kami?” Tanya Donghae saat Hyun Hee mengatakan bahwa orang tuanya dipindah tugaskan ke Belanda. Jadi mau tak mau ia pasti ikut dengan kedua orang tuanya.

Hyun Hee mengangguk pelan. Kentara sekali kalau ia sedang sedih sekarang.

“Kapan kau akan berangkat, Hyun Hee~ya?” Tanya salah seorang teman dekat Hyun Hee yang memakai topi dikepalanya.

“Besok.” Jawab Hyun Hee singkat. Semuanya hanya mengangguk. Mereka sedih karena akan kehilangan salah seorang sahabat mereka.

“Donghae Oppa.” Panggil Hyun Hee. Donghae berjalan lebih mendekat dan berdiri tepat di samping Hyun Hee.

“Eo. Wae geurae?”

“Oppa, saat aku kembali nanti bisakah kau mulai melihatku?”

10 tahun kemudian

Hyun Hee memutuskan untuk kembali ke Korea dan melanjutkan studinya di sini. Kedua orang tuanya masih di Belanda, mereka akan menyusul Hyun Hee saat kontrak kerja orang tuanya berakhir.

Hyun Hee sengaja memilih untuk tinggal di Seoul, bukan di Mokpo, kampung halamannya yang dulu. Alasannya cukup simple. Ia ingin berada di satu kota yang sama dengan Lee Donghae.

Selama 2 tahun Shin Hyun Hee menjadi stalker seorang Lee Donghae. Ia mencari semua informasi yang berkaitan dengan pujaannya itu. Ia cukup kenal dengan keluarga Lee Donghae, dan tidak susah mendapat informasi yang aktual tentangnya. Hingga suatu hari Hyun Hee mendapati bahwa Lee Donghae sudah bertunangan. Hanya saja ia tidak tahu siapa yoeja yang telah bersanding bersamanya. Ia hanya tahu bahwa tunangan Lee Donghae adalah gadis kaya raya bernama Choi Hye ri.

Sakit hati lagi. Ya, untuk kesekian kalinya. Ia sengaja pulang ke negara asalnya untuk bisa bersama seorang Lee Donghae, tapi sepertinya ia terlambat. Tidak, Hyun Hee tidak terlambat. Ia menemukan Lee Donghae terlebih dahulu. Tapi lagi – lagi seseorang merebutnya dari pandangannya.

***

“Hae~ya, ada gadis yang mencarimu.” Eunhyuk membuyarkan rutinitas Donghae. Melamun. Akhir – akhir ini Lee Donghae memang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun saat jadwal kosong.

“Nugu?” Tanya Lee Donghae datar.

“Molla. Namanya Shin Hyun Hee. Sepertinya ia fans mu. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa masuk dorm, padahal banyak security diluar sana.” Donghae sedikit terperanjat mendengar nama yang baru saja keluar dari mulut pasangannya. Donghae mulai beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang tengah.

“Shin Hyun Hee? Kau Shin Hyun Hee?” Donghae menatap gadis di depannya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Donghae Oppa. Woaa kau sangat tampan sekarang.” Hyun Hee berlari ke arah Donghae, memeluk tubuh namja itu sangat erat.

“Yakk, kenapa kau baru muncul sekarang? Kau sudah mulai melupakan Oppamu ini hah? Woaaa lihat, kau tumbuh menjadi gadis yang cantik sekarang. Pasti banyak namja yang mengantri untuk mendapatkanmu.” Donghae melepas pelukannya dan mengajak gadis di depannya untuk duduk di sofa.

“Ceritakan padaku. Siapa namja yang sudah berhasil menaklukan gadis cantik sepertimu. Orang Korea? Atau orang Belanda? Aigoo, kau benar – benar menjadi gadis cantik Hyun Hee~ya.” Tanyanya lagi.

Hyun Hee hanya membalasnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Tidak berani membenarkan ataupun menyangkalnya.

“Oppa, sepertinya kau tampak murung. Apa kau sedang punya masalah?” Hyun Hee mulai mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya tidak juga karena saat itu Donghae memang terlihat seperti murung meskipun ia berusaha ceria di depan Hyun Hee.

“Benarkah? Apa terlihat jelas di wajahku?” Katanya tak percaya.

“Eo, wae?” Tanya Hyun Hee lagi. Sepertinya ia sudah berhasil membuat Lee Donghae tidak lagi membahas tentangnya.

“Patah hati.” Celetuk Eunhyuk. Eunhyuk tiba – tiba saja sudah berada di ruang tengah, bersandar di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya dan memotong obrolan mereka berdua.

“Yakk, Hyuk~ah.” Donghae berteriak kesal sambil menatap tajam ke arah Eunhyuk. Ia memberi isyarat supaya Eunhyuk tutup mulut dan tidak membeberkannya kepada orang lain.

Eunhyuk mengedikkan bahunya kemudian kembali berlalu meninggalkan Hyun Hee dan Donghae di ruang tengah. Hyun Hee menatap Lee Donghae dalam – dalam. Ia mulai berfikir apakah ini saatnya untuk mengungkapkan semuanya ke pada Lee Donghae? Apakah Tuhan sedang berpihak padanya dan memberinya kesempatan ini?

“Oppa,ehm………..” Hyun Hee terlihat ragu – dan gugup. Ia meremas – remas tangannya sendiri untuk menghilangkan kegugupannya, meskipun sebenarnya hal itu tidak mengurangi rasa gugupnya sedikitpun.

“Waeyo? Kenapa tiba – tiba wajahmu pucat? Neo appoyo?” Donghae mendadak khawatir. Ia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Hyun Hee.

“Oppa, aku………….. Aku mencintaimu.” Ucap Hyun Hee cepat.

Donghae diam sejenak, kemudian terkekeh pelan sambil mengacak rambut Hyun Hee pelan.”Yakk, kau ini. Membuatku khawatir saja. Aku juga mencintaimu Shin Hyun Hee. Kau ini adikku, jadi sudah sewajarnya aku mencintai adikku sendiri.” Lee Donghae kembali terkekeh melihat tingkah Hyun Hee tersebut.

Hyun Hee menggelengkan kepalanya.”Aniyo Oppa, bukan seperti itu maksudku. Aku mencintai Oppa sebagai seorang namja, bukan kakakku.” Hyun Hee memberanikan diri untuk menatap kearah Lee Donghae – untuk meyakinkan bahwa ucapannya barusan adalah sungguh – sungguh, bukan lelucon.

Donghae kembali terdiam, mencerna baik – baik apa yang baru saja terlontar dari mulut yoeja di sampingnya. Ia mulai menggeser kembali duduknya, sedikit menjauh dari Shin Hyun Hee saat ketika tahu arah pembicaraan Hyun Hee. Donghae hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Ia tak tahu harus menjawab apa.

Hyun Hee mulai menyadari situasi tersebut. Ia berdiri, berjalan beberapa langkah hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Lee Donghae. Ia mulai mensejajarkan tubuhnya dengan Lee Donghae yang masih duduk di sofa – dan memegang tangannya. Sementara Donghae hanya diam, tanpa melakukan penolakan apapun.

“Aku tahu kau tidak mencintaiku Oppa. Aku juga sadar bahwa aku terlalu lancang melakukan semua ini. Tapi, aku rasa ini satu – satunya kesempatan yang aku punya. Tuhan sedang berbaik hati padaku dan aku tidak mau menyia – nyiakan kesempatan ini. Aku sudah mencintaimu dari dulu Oppa, aku sudah sangat terpesona oleh sosokmu . Sampai detik ini pun aku rasa aku masih sangat sangat sangat mencintaimu. Bisakah kau memberiku kesempatan Oppa? Aku akan menyerah saat kau memang benar – benar tidak bisa untuk mencintaiku dan akan membuang perasaanku ini jauh – jauh. Tapi sekarang, hari ini bisakah kita mencobanya?”

END

 ahahahahahahhaha…… annyeong annyeong….
Author imut balik lagi….. wkwkwkwkwkwkwkwkwk
ini epilog yang aku janjiin waktu itu. ini buat ngejelasin masalah Hyun Hee kenapa tiba – tiba bisa tunangan sama Lee Donghae….
soooooo udah jelas kn sekarang….. #padahal gak ada yang nanya#
Okeeee cukup cuap – cuap nya….. gomawooo udah baca FF GJ aku…… #bungkukin badan#

Advertisements

About eunhaekyu

i'm an ELF really really really really Lee Donghae and Lee Hyuk Jae joahae...... i think both of them are perfect....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s